Merayakan Cinta~

Merayakan cinta – bagi saya,  setiap hari adalah hari baru untuk merayakan cinta, tidak mesti menunggu anniversary untuk kemudian merayakan cinta seperti youth jaman now. Hihii

Anniversary, kemudian tidak menjadi hari yang paling saya tunggu-tunggu. Berbeda saat dulu masih jamannya pacaran, anniversary selalu menjadi momen yang paling dinanti untuk saling tukar kado dan memamerkan ke sosial media perihal langgengnya hubungan kami. (kesalahan berpikir di masa lalu) haha… 

Anniversary, kali ini harusnya dirayakan, entah dengan makan malam berdua atau meniup lilin angka satu pada sebuah potongan kue dan/atau sekedar jalan-jalan menghabiskan hari bersama. Tapi nyatanya beda, kesemuanya yang tersebut diatas bisa saja diwujudkan, hanya saja entah karena alasan apa, kami kemudian menyepelekan itu semua tapi tetap mengingat bahwa hari ini (15 Oktober 2017) adalah setahun pernikahan kita. :’)

Anniversary – bagi saya adalah momen mengingat kembali. Sampai hari ini saya bahkan tidak tahu alasan saya dulu menerima lamaran lelaki ini,  yang kutahu adalah Tuhan punya maksud baik didalamnya. Hingga hari ini, sejak setahun kamu mengucap akad, satu hal yang paling berubah dari hidup saya adalah adanya rasa tenang,  nyaman,  dan aman saat saya bersamamu (ngik) haha.. Selain itu, anniversary bagi saya adalah momen meminta maaf pada kamu yang telah mempasrahkan hidupnya untuk bertanggung jawab pada kehidupan saya, mengapa meminta maaf? Sebab selama bersama lelaki ini, saya sadar saya banyak salah. Saya bahkan tidak bisa lupa ketika suatu hari saya duduk bersama Bapak saya dan beliau tiba-tiba berkata “sayangi suamimu nak, lelaki yang penuh kasih sayang,  juga sabar menghadapimu.” saat itu saya bahkan membalas Bapak dengan tertawa. Tapi di kemudian hari ketika saya menemui diriku dalam keadaan emosi, lelaki ini akan menjelma menjadi lelaki paling sabar yang pernah ada di dunia.  Memang, tidak semua hal dari diri saya mampu dia mengerti, tapi dia paling bisa diam dan meminimalisir konflik yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. (kemudian saya mewek)  haha. 

Maka, setahun pernikahan kita, izinkan saya mencintaimu jauh lebih banyak dari sebelumnya, belajar dan terus belajar menjadi istri yang baik, juga ibu yang baik untuk baby yang sedang bergerak-gerak dalam perut saya. Percayalah, meskipun mulutku jarang sekali mengaku mencintaimu, tapi tak ada doa yang terlewat tanpa mendoakanmu. :’) 

Terimakasih kembali, untuk setahun yang kuanggap penuh drama, semoga kita tetap saling menenangkan dalam suka dan duka, saling mengingatkan dalam canda dan tawa, saling bersinergi untuk masa depan yang lebih baik.  Saling mendoakan untuk kehidupan abadi setelahnya. :’) 

with love – your love 💜

(foto ini diambil saat menghadiri pesta pernikahan (15 Oktober 2017) – di Balai Kenari)

Advertisements

Lelaki itu, Teman hidupku~

Waktu menunjukkan pukul 21:24 (waktu di laptop saya) ketika saya mulai menulis tulisan ini. Diluar sedang hujan romantis (re:gerimis), cuaca yang sangat mendukung untuk kemudian tidur atau menikmati secangkir teh hangat ditemani novel.

Malam ini, seorang perempuan datang menemuiku, menceritakan sedikit dari perjalanan hidupnya yang bisa jadi menarik atau bahkan tidak sama sekali, tergantung siapa yang kemudian membacanya.

Perempuan ini kukenal sebagai perempuan paling keras kepala, susah jatuh cinta, sering PHP, tapi selalu bersemangat dalam berbagi. Dia perempuan yang kukenal sejak lahir, bahkan teramat dekat dengan saya.

Diluar hujan mulai berhenti, diapun mulai bercerita, “aku melihat lelaki itu menembus hujan, ingin mencegahnya tapi aku tidak bisa, aku mengikutinya hingga punggungnya tak lagi bisa kulihat. Dia lelaki yang sedikit keras kepala,punya ambisi yang kuat dan cita cita yang tinggi. Aku menjadi pengikut setia lelaki itu, aku mengetahui posisi tidurnya, wajahnya ketika bangun tidur, wajahnya ketika bahagia, wajahnya ketika bersedih, bahkan aku menghafal setiap aktivitas serta keluhan-keluhannya.”

Dia menatap handphonenya, mengabaikan beberapa notifikasi dan kembali bercerita, “Dia lelaki yang menemani setiap malam-malamku, kami berdiskusi banyak hal, kami mempelajari banyak hal, belajar bahasa inggris bersama, mengaji bersama, kadang dia mengecupku, kadang dia memelukku erat. Tapi seringkali juga kami berdebat, berbeda pendapat, bertengkar karena hal-hal sepele, tapi setelah itu dia kembali mengecup dan memelukku erat. Kami menertawakan banyak hal bersama, tapi aku lebih sering menertawainya jika dia kesakitan atau mengeluh. Kami bahkan pernah menangis bersama, dan dia kembali mengecup dan memelukku erat.”

Saya menghela nafas, kemudian mengajukan pertanyaan,  apakah kamu mencintainya? apakah dia mencintaimu? – pertanyaan bodoh menurut saya.

“jangan tanya soal rasa, tapi pahami kalimat yang sempat aku lontarkan.” itu katanya, sederhana tapi penuh makna~

Dia kembali bercerita, “jika ditanya soal rasa, aku tidak bisa mendeskripsikan seperti apa perasaanku, terlebih kepadanya. Dulu, aku pernah mengaku mencintai seorang lelaki, kuterima saja apa yang dia lakukan terhadapku, tapi ternyata aku salah memaknai cinta. Pernah juga aku mengaku mencintai seorang lelaki, tanpa keinginan untuk saling memiliki, dan kembali aku salah memaknai cinta. Kemudian apa yang terjadi dengan lelaki ini, aku tak pernah sekalipun mengaku mencintainya, didepan siapapun, tapi aku selalu merasa punya tanggung jawab terhadapnya dan yang paling penting aku selalu merasa tenang bersamanya. Dia tidak pernah menuntut sesuatu padaku, pun tak pernah menyuruhku ini itu, ketika aku merasa kelelahan dia akan menjadi lelaki pertama yang menyuruhku tidur, melarangku mengerjakan ini itu. Dia kemudian beralih fungsi, menjadi lelaki paling perhatian jika saya sakit, mengantar kesana kemari tak peduli panas dan hujan, lelaki yang dulunya kukenal hanya dari mulut seorang Bapak yang menyaksikan tumbuh kembangku sejak SMP. Dulu saya tidak tertarik sedikitpun dengan lelaki ini, tapi disetiap harinya, saya menyaksikan usahanya membahagiakanku, kerja kerasnya membahagiakanku, hingga kadang sesuatu yang menurutnya sulit pun harus dilakukan untuk membahagiakanku, maka apalagi balasan terbaikku selain mencintainya?”

Saya terdiam, pada kalimat terakhir yang dia lontarkan. Saya mulai paham bahwa lelaki yang sedari tadi dia ceritakan adalah teman hidupku, lelaki yang telah dan akan selalu bertanggung jawab pada senyum dan tangisku. Lelaki yang telah diamanahi kehidupan dunia – akhiratku.

Kepadamu lelakiku, tidak ada balasan terbaik selain mencintai dan mendoakan kebaikan atasmu. Malam ini, kamu harus menembus hujan untuk suatu pekerjaan, semoga Allah menilai pahala atas setiap langkahmu, memberkahi segala aktivitasmu. Kamu memang sedikit keras, tapi terima kasih untuk keinginan dan usaha untuk selalu menjadi lebih baik. Semoga kita saling mensurgakan, saling menjaga kesetiaan hingga sakinah mawaddah warahmah dalam ikatan cinta yang halal.

tertanda, istrimu yang cerewet.

Ana uhibbuka fillah :’)

(Terimakasih telah mewujudkan satu mimpi : berkunjung ke Yogyakarta) 

Jodoh, Rahasia-Nya~

 

(Wedding ring was made and designed by him)

 

Jodoh itu rahasiaNya – yang ditunggu tak kunjung datang, yang tak kenal justru datang melamar. Ah, kalimat ini—
Setiap orang pernah punya mimpi dengan siapa mereka ingin bersanding, dengan siapa mereka ingin melewati suka dukanya, begitu juga saya.

Setiap orang pernah kekeuh mempertahankan satu nama yang diyakini jodohnya, menunggu tanpa kepastian, dan menyebut namanya dalam doa-doanya, begitu juga saya.

Setiap orang ingin menghabiskan waktunya dengan orang yang mereka sayangi, dengan orang yang menyayangi mereka, begitu juga saya.

Tapi hidup tak selalu sesuai harapan,

Bisa jadi kita akan bersanding dan melewati suka duka dengan orang yang baru dikenal.

Bisa jadi orang yang selama ini kita sebut dalam doa, bukan jodoh kita.

Bisa jadi kita akan menghabiskan waktu dengan orang yang baru akan kita sayangi.

Ah, hidup perihal memilih dan menjalani ketetapan-Nya.

Saya termasuk perempuan keras kepala dalam hal memilih pasangan, pernah memilih bertahan pada lelaki yang mengecewakan berkali-kali, pernah memilih bertahan pada lelaki tanpa kepastian, hingga kemudian memilih melepaskan tanpa mengharap siapa-siapa.

Melepaskan justru membuka pintu kesempatan bagi yang lain.

Siapa sangka, saya akhirnya menerima lamaran seorang lelaki yang belum kukenali wajah dan sifatnya. Lelaki yang berani menyuruh keluarganya datang  ke rumah saya sebelum mengenal saya lebih jauh. Entah siapa yang nekat, dia yang melamar atau saya yang menerima lamarannya.

Seseorang pernah berkata “selalu ada campur tangan Tuhan dalam urusan jodoh.” Dan disinilah Tuhan menunjukkan jalanNya, dimudahkan segala urusan berkenalan dengannya, hingga akhirnya kami bersepakat untuk hidup bersama di masa depan. Saya tidak tahu pasti alasan dia memilih saya, yang saya tahu saya tidak punya alasan yang kuat untuk menolak dia. Beberapa kali mencoba bertanya dan jawabannya selalu sama “saya telah menyebut kriteria dalam doa saya dan diantara banyaknya perempuan, Allah menjawab doa saya dengan memilih kamu menjadi calon ibu dari anak-anak saya.” (percayalah saya tidak pernah luluh dengan kalimat ini) hahaha…

Waktu berlalu, saya bisa menghitung jari intensitas pertemuan dengan dia, tidak begitu banyak hal yang saya tahu tapi sepanjang perkenalan kami sejak pertengahan Juli kemarin, saya bisa menyimpulkan bahwa dia lelaki baik yang Allah kirimkan untuk membimbing dan melengkapi hidup saya, karenanya saya banyak memandang sesuatu dari sudut yang berbeda, dia menjelma menjadi teman debat dalam setiap issue, tapi tak pernah memaksakan pendapat dan tak pernah emosi menghadapi saya yang moody-an.  Terimakasih telah menjadi teman diskusi setiap malam melalui telepon, meski sering kali saya tinggal tidur. Hehee

Hari ini saat saya menulis catatan ini di salah satu ruang yang telah dihias (baca: kamar pengantin), saya sendiri masih tidak percaya bahwa 4 hari kedepan kamu akan mengucap janji suci di depan Bapak saya, keluarga saya juga keluarga kamu. Kontrak hidup yang akan kita jalani bersama. Maka semoga Allah memudahkan dan melancarkan segala urusan, memberkahi dan meridhoi pernikahan kita, dan membersamai kita dalam setiap langkah.

Terimakasih telah bersabar menghadapi saya.

Terimakasih telah bersedia menjadi lelaki bertanggung jawab untuk semua suka duka saya di masa depan.

Terimakasih telah memilih saya.

Terimakasih telah menerima masa lalu saya.

Terimakasih untuk usahamu menyenangkan hati saya juga meluluhkan perempuan yang keras kepala ini.

Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada kamu, namun saya akan belajar mencintai kamu, memahami kamu dan menerima segala kekurangan kamu.

Semoga kita saling mensurgakan, bersama menikmati roller coster kehidupan, selamanya 🙂

——

Terima kasih kepada Tuhan yang begitu apik mengatur kehidupan saya,

kepada orang tua dan keluarga saya atas cinta dan doa yang tak berkesudahan,

Kepada setiap orang yang pernah menjadi bagian masa lalu saya, terimakasih telah membentuk pribadi saya hari ini, ingatlah bahwa kalian tetap menjadi yang terbaik di masanya, bisa jadi Tuhan akan memberi jauh yang lebih baik sesuai yang kamu butuhkan.

Untuk semua yang telah menjadi bagian hidup saya, semoga Allah selalu menyayangi kita.

Dan untuk diri, semoga kamu selalu lapang menerima ketetapan-Nya, menyertakan Allah dalam setiap keputusan, dan menjadi sebaik-baik istri untuk suami, anak untuk orang tua, ibu untuk anak-anak, dan sebaik-baik manusia untuk sesamanya. :’)

Allah, Aku berserah atas takdirMu :’)

Kemana Saja, Asal Tidak Menujumu~

Kini aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.
Kemarin, kutitip harapan kepadamu, kiranya yang tumbuh dihati engkau jaga selayaknya aku yang menjaga kamu pada kepasrahan sujud-sujudku.
Tapi, harapan itu perlahan menjadi pertentangan di sunyinya malam-malamku.
Mulai menghancurkan akal sehatku.
Mulai mendekatkanku pada hal-hal yang tak ingin kulakukan.
Aku berpasrah tapi tak mampu bersabar.
Pun tak mampu berterus terang atas setiap rasa yang kutitipkan kepadamu.
Duhai jiwa~

Kini aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.
Kamu seberkas cahaya bagi penghidupanku yang diterpa sunyi
Perlahan kamu menerima segala kekurangan yang ada pada diriku
Tapi aku?
Aku bahkan tak mampu menerima kekuranganmu,
Bagiku setia dan menyatu adalah komitmen yang tak bosan diulang-ulang dalam doa.
Namun pikirku mulai ragu, adakah aku dalam doamu?
Pernah kah kamu memperbincangkanku denganNya?
Layaknya aku yang tak bosan mempertanyakanmu dalam sujud-sujudku.
Duhai jiwa~

Kini aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.
Dalam prosesku mengenali diri,
Kutemukan kamu tak kunjung mengenal diri.
Aku bisa apa, pada cemburu yang tak bertuan,
Pada ego yang selalu ingin menemuimu.
Dalam proses mengenali diri,
Kutemukan keragu-raguan untuk tetap melangkah maju.
Tidak, kamu tidak bisa berterus terang,
Duhai jiwa~

Maka apalagi yang kamu inginkan?
Setelah berkali-kali harapan bersamanya engkau rapal dalam doa-doamu,
Meski merangkak, kamu tetap keras kepala, menunggu dalam kepedihan.

Maka apalagi yang kamu inginkan?
Setelah pertentangan logika dan hati melahap habis malam-malammu.
Mencari separuh jiwamu yang tidak lagi kamu temukan.
Menyiksa dirimu dengan kesia-siaan.

Duhai jiwa, berharaplah hanya kepadaNya. Kepada Dia yang dengan begitu apik megatur segala urusan hidupmu, yang tidak pernah mengecewakanmu pada setiap kejadian-kejadian yang menjadi puzzle hidupmu.

Duhai jiwa, aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.

24 Ramadhan – Allah tetapkan hatiku di jalan Mu :’)
Rangkul aku yang tak tentu arah :’)

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya (QS – Yasin : 40)

Alhamdulillah untuk segala ketetapan-Mu, aku mencintaimu :’)

image
(suatu malam di Mall Ratu Indah, Makassar)

I am Lose~

Pada malam,,
Ia kembali menginginkan hujan turun dengan derasnya, hingga isak tangisnya tidak lagi terdengar oleh siapapun..
Pada malam,,
Ia kembali menutup tirai yang pernah dibuka, kembali membangun dinding, mengerti batas juga ego yang tak harus dituruti..
Pada malam,,
Ia kembali menitipkan rindu lewat doa-doa indah pengantar tidur..

Kepada kamu, semoga selalu baik-baik saja..
Dan
Kepada kamu, semoga Allah selalu menjagamu..

Dan
Kepada diri, apa yang membuatmu menyerah?
Semangatlah, jalan berliku masih panjang.
Gelar menanti untuk segera disandang..

(Malam ke-5 Ramadhan, Allah menantimu, berlarilah menujunya wahai hati yang tidak tenang) :’)
image

Aku Bukan Cinta dan Tuan Bukan Rangga~

Kepada Tuan yang sedang marah..

Bolehkah aku bercerita tentang kita?

Satu bulan ke depan jika ingatmu masih padaku maka genaplah 6 tahun perjalanan mengenalmu lebih jauh. Apa juga untungnya mengingat, toh antara aku dan Tuan tidak pernah ada ikatan jelas setelah Tuan memilih untuk berpindah.

Kisah ini, adalah proses panjang yang paling mempengaruhi hidup saya. jika saja setiap episodenya dituliskan, mungkin rekornya bisa melebihi sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” yang mendekati 2000 episode, sesuatu yang sangat luar biasa.

Tapi Tuan, tulisan kali ini mungkin sama saja dengan catatan-catatan pilu yang dulu sempat kutuliskan. Kamu bisa jadi membencinya karena karaktermu kubuat antagonis di setiap ceritaku. Tapi tidak masalah Tuan, aku kemudian menjadi terbiasa oleh setiap lakumu yang diluar kendalimu dan oleh setiap ucapanmu yang terpengaruh emosimu.

Jika Tuan berkata aku adalah orang yang paling menyakiti Tuan, maka tidak apa, biarlah sesekali aku mencoba peran antagonis yang Tuan tuduhkan kepadaku. Tapi, sebelum Tuan mencaci lebih jauh, bolehkah aku bertanya pada Tuan? Perihal siapa aku dihati dan hidup Tuan?

Tuan telah mengakhiri hubungan ini sejak Tuan menyelesaikan Studi beberapa tahun lalu, alasan Tuan mengakhiri adalah hal yang tidak pernah bisa kuterima, dulu. Butuh beberapa tahun untuk bisa menerima tapi tidak dengan melupakan. Kukira dengan kembali menjadi teman semua akan baik-baik saja, kukira benteng yang kubangun tentangmu tidak akan pernah jebol oleh perhatianmu, tapi aku salah Tuan, aku menutupi perasaanku dengan berpura-pura berbahagia melihatmu bersama mereka, mengapa saya menyebut mereka, karena bukan sekali aku menemukanmu dengan yang lain, bahkan ceritamu-ceritamu tentang mereka seringkali menjadi bahan obrolan kita yang menyakitkan.

Tapi bagiku, itu tidak pernah menjadi masalah Tuan, meski berkali-kali ia melumpuhkan akal sehatku. Aku selalu mencoba untuk tidak peduli dengan semua kejadian menyenangkan atau bahkan menyedihkan tentangmu, tapi disinilah kelemahan saya, saya tidak pernah bisa betul-betul pergi Tuan, saya tidak bisa berpura-pura bahwa saya tidak butuh kamu untuk menemani langkah saya, dan ternyata sesuatu yang kuanggap salah justru Tuan benarkan, kata Tuan, bersama yang lain justru membuat Tuan semakin menginginkan saya, semakin membuka kenangan Tuan tentang saya, dan tibalah kita pada satu kesalahan fatal, tidak ingin saling melepaskan tapi tidak juga ingin memperjelas hubungan. Semuanya menjadi baik-baik saja, meski kutahu aku bukan perempuan satu-satunya yang Tuan tenangkan, dan saya sangat tahu posisi Tuan, mencoba mengurangi perasaan bersalah Tuan namun justru menjadi api yang membakar diri Tuan sendiri.

Di sepanjang perjalanan kita, bukan sekali perdebatan panjang diantara kita tapi seringkali, bahkan mungkin teman dekat sayapun tidak sudi lagi mendengar cerita-cerita tentang Tuan, saya pun tak mengerti mengapa bibirku selalu ingin memperbincangkan Tuan, dimanapun kakiku berpijak. Jika orang-orang berpikir saya tidak punya usaha untuk menghindari Tuan, maka mereka salah, Tuan pun demikian mencoba segala cara untuk kita tidak bertemu kembali, langkah kaki kita akhirnya semakin panjang, berjalan menjauh sebisa yang kita bisa, tapi lebih banyak gagal. Saya salah selalu memberi kesempatan pada Tuan untuk menenangkan saya, dan Tuan juga salah selalu mencari saya ketika tidak punya tempat kembali, apakah Tuan menyadari, sejauh mana kesalahan yang telah kita buat?

Jika Tuan mengatakan aku adalah orang yang paling tidak peduli dengan Tuan bahkan tidak mengenal Tuan, maka tidak apa, tapi bolehkah aku meminta pada Tuan, kelak diperjalanan Tuan berikutnya, ketika tak ada lagi kabar dari aku, maka Tuan boleh merenung sejenak, perihal perempuan yang selalu berusaha menyenangkan hati Tuan tapi selalu gagal, perihal perempuan yang selalu berisik menanyakan keadaan dan menyuruh Tuan ini itu, perihal perempuan yang paling banyak menyembunyikan tangisnya karena Tuan.

Dan jika hari ini Tuan mengatakan bahwa aku adalah orang yang Tuan tidak kenal, maka tak apa Tuan, sekali lagi biarkan aku melakoni peran antagonis sesuai inginmu. Aku bisa saja membenarkan hal ini, sebab setahun terakhir saya mencoba menjauh dari hidup Tuan, setelah berkali-kali meminta kejelasan tapi tak kunjung terjawab, aku menjadi orang yang tidak Tuan kenal karena laku Tuan yang seringkali diuar kendali. Saya selalu menjadi serba salah ketika Tuan marah, masalah yang sebenarnya sederhana saja tapi selalu Tuan besar-besarkan, sesuatu yang tidak pernah kuanggap masalah selalu Tuan permasalahkan dengan emosi Tuan yang meluap-luap. Kita selalu memandang sesuatu dari sudut yang berbeda, dan disinilah perdebatan kita selalu berawal.

Tuan jika kali ini saya lebih banyak diam, bukan karena aku tidak peduli atau bahkan membenci Tuan, hanya saja saya tidak ingin selalu berdebat dengan Tuan, saya kehabisan akal menghadapi emosi Tuan, bahkan aku membenci kesopanan Tuan yang ternodai oleh mood yang berantakan. Jika Tuan menjadi tidak mengenalku karena perdebatan panjang ini, maka aku juga tidak mengenal Tuan dengan segala emosi yang menyakiti saya.

Tuan, damailah dengan hatimu, dengan semua masa lalu yang memenuhi kepalamu. Kita akan baik-baik saja selama kita tidak saling mempermasalahkan apa yang tidak seharusnya menjadi urusan kita.

Tuan, terimakasih untuk selalu peduli, karena peduli yang terlalu dalam kamu menjadi terluka oleh persepsimu sendiri, maafkan aku yang tidak pernah bermaksud melukaimu, sedikitpun.

Tuan, maafkan saya jika kembali menulis tentang kamu, saya bukan Cinta yang mungkin setelah mendengar penjelasanmu kemudian memutuskan untuk happy ending bersamamu, sebab kamu pun bukan Rangga yang akan menjelaskan dan mengakui setiap kesalahanmu.

Kita punya cerita yang mungkin jauh lebih rumit atau malah jauh lebih sederhana ketika kita melepaskan dan memperbaiki diri kita masing-masing.

Tuan, aku akan baik-baik saja, bersama orang-orang yang kusyukuri keberadaanya, begitupun dengan Tuan akan selalu baik-baik saja dengan orang-orang disekitar Tuan.

Bisakah kita berdamai Tuan? Sebab kita bukan kanak-kanak lagi. Kita punya jalan masing-masing untuk kita nikmati prosesnya dan biarkan endingnya menjadi surprise.

Atau jika Tuan ingin memperbaiki semuanya, maka jalan untuk kebaikan selalu ada Tuan. Inginku sederhana, hanya ingin berdamai dengan hati Tuan yang seringkali membuat saya menjatuhkan airmata, urusan jodoh Allah yang menentukan, tapi silaturahim kita yang jaga.

Maafkan saya, karena saya hanya manusia biasa yang sedang mencoba memperbaiki diri dan menerima ketetapan-Nya. :’)

Mei – HA

13177631_805694792896223_9003303615933372070_n
(satu sore di kabupaten Sinjai)

Hi Februari~

Dear you..

Hello..

selamat tanggal 15 Februari, selamat memasuki tahun ke 25 berpetualang di bumi ini. 🙂

sehat? baik-baik saja? KI? thesis? haatii? heehe (tersenyumlah sebelum melanjutkan membacanya) 🙂

hei.. lelaki yang paling menguji kesabaran, kita mungkin pernah melewati masa-masa bingung dan kikuk memilih kado dan menyiapkan suprise ulang tahun. masa dimana kemampuan akting sangat dibutuhkan. masa yang mungkin menyedihkan jika dikenang, ouch (maka lupakanlah).

apakah kamu merasa bahwa tidak ada hal yang perlu diselesaikan diantara kita? maaf jika tanyaku mulai mengerutkan alismu. sejauh saya mengenalmu, kamu adalah laki-laki baik tapi cukup keras dengan sesuatu yang bertentangan dengan maumu. sedang hatimu, adalah bagian paling rapuh yang tidak mampu kamu kelola dengan baik. memasuki usia 25, kamu bukan lagi lelaki yang harus terikat pada satu masa yang cukup mengekangmu, dan sebagai yang paling suka menkritisimu, saya hanya ingin kamu belajar bijak dari setiap masalah yang telah terlewati, belajar bersabar dari ingin yang tak sesuai dan belajar mengelola emosi juga perasaan yang sering kali terlampiaskan bukan pada tempatnya. mungkin kamu berpikir, buat apa menulis surat ini jika hanya untuk mengomentarimu (hal yang paling tidak kamu suka sepanjang aku mengenalmu), tapi dibalik itu, saya hanya ingin melihatmu jauh lebih baik lagi, ingin melihatmu kembali menjadi pribadi yang teduh untuk siapa saja.

dengan terpostingnya surat ini, saya yakin akan ada beberapa tanya dari orang-orang sekitar kita, dan menulis surat ini pun bukan hal yang tak terpikirkan sebab saya tahu ada hati yang mesti kamu jaga. saya tidak sedang mempengaruhimu untuk kembali pada dia yang telah kamu usahakan untuk pergi, hanya saja, bisakah kamu berdamai dengan hatimu sendiri? dan bisakah kita berdamai dengan kita yang dulu dan sekarang? mulailah berpikir, bukan untuk hari ini, tapi kedepannya, kemana kakimu akan melangkah selanjutnya dan pada siapa hatimu menuju pulang.

jika suratku masuk tak tepat waktu, maafkan saya. kutahu pasti kamu sedang sibuk dengan tugas akhirmu, jadwal ujianmu minggu ini, dan kegiatan di bulan Maret nanti.

selamat ulang tahun Uli, semoga sehat selalu, dimudahkan dan dilancarkan segala urusan. dewasa, semangat, bahagia selalu, sukses #KIMks4 dan magister soon..

terima kasih telah menjadi yang terbaik pada masanya, kita mungkin punya masa lalu yang tidak usai, tapi bukan berarti kita tidak berhak bahagia di masa depan bersama ataupun dengan yang lain.

terima kasih telah menguji kesabaranku, apapun yang membuat airmataku jatuh adalah alasanku untuk tetap tersenyum di hadapanmu. saya dan segala luka akan sembuh oleh penerimaan, begitupun kamu. semoga kesalahan lalu menuntun kita menjadi pribadi yang bijak.

be happiest lelaki yang selalu kupikirkan bahagianya, meski saya lebih banyak gagal memahami perasaanmu.

Allah selalu sayangki, dimanapun, kapanpun, bersama siapapun.

Happy birthday 🙂

 

tertanda..

your little girl,,

 

 

 

 

 

 

 

untuk Perempuan Sederhana di Jogja~

hello kakak..

apa kabarki?

bagaimana cuaca disana? disini sedang hujan romantis, sayang sekali harus melewatinya di tempat tidur hihi

Februari tahun lalu hampir sama Februari tahun ini, adalah bulan sibuknya kita menyiapkan salah satu kegiatan yang mempertemukan kita, bedanya dulu hampir setiap hari kita bertemu, membicarakan apapun yang menurut kita penting untuk dibicarakan. sekarang, kita hanya saling mendukung, menyemangati satu sama lain, sebab jarak mencuri waktu pertemuan raga kita.

dulu sebelum kamu kembali ke kota tempatmu menuntut ilmu, saya sudah berjanji pada diri untuk mengirimimu surat tepat dihari keberangkatanmu. tapi maaf, kesibukan-kesibukanku akhirnya menyita banyak waktu, juga tenaga dan jam tidurku. syukurlah kita masih sempat bertemu di Bandara meski ada hal lain yang harus dikorbankan.

dan hari ini tepat satu tahun pertemanan kita di salah satu media sosial, akhirnya memberi saya kesempatan untuk melunasi janjiku. yuhuui happy anniversary *eh

bagi saya, kamu selalu menjadi wanita sederhana, dengan senyum khas dan kedipan mata berulang-ulang tiap bertemu. hahaa selalu berusaha terlihat baik-baik saja meski kutahu kamu menyembunyikan banyak pilu dibalik senyummu (sedang bicara depan cermin). hihi tapi satu hal kamu masih jauh lebih kuat dari saya, dari semua cerita yang kita bagi, sebenarnya kita sedang belajar untuk saling menguatkan, belajar memperbaiki diri untuk mereka yang telah ditakdirkan menjadi penggenap kita di masa depan. (kenapa jadi bahas ini) huaaa maafkan hhaha..

untuk saat ini, adikmu yang sedang menggalaukan proposalnya cuma berharap doa juga semangat. dan untuk kakak Ayus disana, jaga kesehatan, semangat kuliahnya dan jangan lupa bahagia..

terima kasih untuk setahun pertemanan kita, semoga kelak sampai kita tua, sampai masa usia kita, kita tetap saling mengingat. dan terima kasih untuk setiap hal yang kita bagi. Allah selalu sayang dan menjaga kak Ayus, dimanapun.

will miss you kak :’)

Makassar 11 Februari 2016

Parnert KI.mu 🙂

 

 

 

 

 

 

Saat Benci Bermula~

Sudah dua hari kubiarkan tubuhku terkurung di ruang 3×3 ini, rasa pusing dan muntah berkali-kali cukup menjadi alarm untuk segera beristirahat dari beberapa kesibukan akhir-akhir ini.

Hari ini, meski belum begitu pulih, saya memaksakan diri untuk ikut salah satu kegiatan kerelawanan, berkeliling naik motor untuk menyampaikan amanah kepada adik-adik yang membutuhkan, hujan turun tanpa jeda, salah satu relawan yang bajunya basah mengatakan “kak hujannya awet” yang kemudian mengingatkan saya akan postingan kemarin “bekas hujan di jendela mobil”.  Saya sudah tahu pasti, pulang dari sini badanku akan menggigil dan kembali merasakan demam semalam. Ah aku, terkenal cukup keras kepala untuk beberapa hal, termasuk kesehatan.

Di rumah, saat di sekililing sudah mulai gelap, menampakkan kuasa-Nya akan pergantian siang dan malam, kutemui diriku terbaring lemas di ruang yang menjadi tempat favorit untuk berlama-lama. Seharusnya, malam ini kuhabiskan waktuku untuk membaca kembali salah satu buku yang akan dipresentasikan besok di ujian final. Seharusnya malam ini semangat belajarku menyala-nyala karena besok adalah final terakhir semester 3. 3 semester yang menguras begitu banyak waktu, pikiran dan emosi akhirnya akan terlewati.

Karena tidak ingin membaca, saya memilih untuk tidur, tidur lebih awal sepertinya akan memulihkan tenaga, tetapi rasanya ini terlalu pagi untuk tidur. Teringat pada satu pesan yang belum kubaca, jadilah saya menatap layar hape berlama-lama. Kutemukan namanya dengan jumlah pesan terbanyak, 209 pesan dalam waktu 3 hari, kubaca dari pesan pertama hingga pesan ke 209, speechless!! Isi pesan yang tak seharusnya, emosi yang tak seharusnya dan kemungkinan-kemungkinan yang tak seharusnya.

Dulu saya selalu mendengar orang-orang berkata cinta begitu mudah menjadi benci, begitupun sebaliknya. Tapi saya mengaku kalimat ini tidak pernah bisa kupercaya, sebab saya sendiri tidak pernah ingin membenci siapapun yang menyakiti saya, bukankah setiap orang adalah sebaik-baik ciptaan Allah yang dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan? Maka tidak sepatutnyalah kita membenci akan peristiwa menyakitkan atau kesedihan yang orang lain lakukan kepada kita. Mama selalu bilang “jadilah orang baik dimanapun, untuk siapapun tanpa terkecuali”. Dan inilah yang membuat saya tidak pernah ingin membenci siapapun. Tapi darimu, saya mulai paham bagaimana benci bermula, sederhana saja, ketika orang yang menurutmu paling kamu sayangi, tidak lagi ingin peduli pada setiap yang terjadi padamu, ketika orang yang paling bisa menenangkanmu, pergi tanpa menoleh kembali. Hal sederhana saja tapi cukup menjadikan benci tumbuh di hati yang tak pernah lapang.

Jika kita ingin menghitung-hitung kesalahan, rasanya tidak wajar atas semua hal yang keluar dari mulutmu, atas setiap caci pada dia yang tak mampu lagi memahamimu emosimu, dia mungkin pernah bertekuk lutut padamu, membiarkan dan menerima setiap lakumu, memahami dan menenangkanmu dari setiap masalahmu. Tapi dia bukan lagi dia, dia kini melepasmu dengan sebaik-baik pemahaman, dia yang kini tidak lagi ingin mengulang rasa sakit itu, dia yang tidak lagi ingin menikmati sesak dimalam-malamnya. Silahkan membenciku, sumpah serapahmu kubalas dengan doa tulus agar hatimu tenang. Silahkan menatapku dengan tatapan yang tajam. Tapi kupesankan kepadamu, tak ada hidup yang tenang jika benci bersemi di hati yang mencinta.

mawar-hitam

Maaf, untuk setiap hal yang menyakitkan.

Biarkan saya menikmati hari-hariku dengan dia yang membuatku jatuhcinta pada percakapan-percakapan tengah malam bersamanya.

Maaf, jika lisanku tak mampu kujaga, jika maafku tak mampu mengobati, jika diamku memicu sakit kepalamu.

Sekali lagi MAAF.

Selamat terluka, kelak kamu akan belajar bijak dari segala hal yang menyakitkan..

Bangkitlah, semangatlah~

-HA-

Topang, Lugu juga Bersemangat~

Saya selalu percaya, setiap kali kita terbangun adalah satu kesempatan yang Tuhan beri untuk menjadi lebih baik lagi. Maka tak heran jika diujung malam saya selalu bertanya ke diri saya, kebaikan apa yang telah saya lakukan hari ini? Apakah saya sudah bersyukur atas satu hari lagi yang Tuhan beri? Atau apakah hari ini saya melaluinya dengan hal yang sia-sia sedang umur semakin berkurang?

Wallahualam.. Allah yang maha mengetahui.

Saya selalu percaya, tempat yang kita datangi dan dengan siapa kita dipertemukan bukanlah suatu kebetulan tapi sudah menjadi skenario-Nya. Tugas kita hanyalah tetap menjadi baik dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.

Hari ini saya ingin bercerita perihal pertemuan singkat saya dengan seorang anak bernama Topang,  kelas 3 SD. Jam menunjukkan pukul 12:32 saat saya dan teman saya selesai sarapan sekaligus makan siang di salah satu warung pinggir jalan di Daeng Tata. Setelah membayar makanan dan bersiap-siap berpindah lokasi, saya berhenti sejenak memperhatikan seorang anak lelaki dengan seragam SD lengkap dipinggir jalan, dia berusaha memberhentikan mobil angkutan umum, sampai pada percobaan yang ketiga tak satupun mobil (re: Pete-pete) yang singgah mengambil anak tersebut. Saya masih memperhatikan ketika salah satu bapak yang menggunakan jaket kulit singgah tepat didepannya, berbicara sekilas lalu kemudian pergi.

“Kak, itu anak mau ke sekolah atau mau pulang, coba kesana, saya ambil motor dulu” kataku sambil menunjuk anak itu.

Teman saya kemudian mendekatinya saya menyusul dengan motor, rupanya adik ini ingin ke sekolah tapi tak satupun pete-pete yang mengambilnya. Kami kemudian menawarkan diri untuk mengantarnya, awalnya dia ragu mungkin karena penampilan saya yang sedikit menakutkan dengan masker dan jaket yang sedikit tebal. Saya membuka masker dan helm kemudian menawarkan sekali lagi hingga akhirnya dia berhasil kami bujuk. Meskipun saya tahu, anak ini sedang dalam kebingungan.

Teringat ketika saya umur segitu saya selalu waspada dengan orang yang menawarkan diri mengantar pulang ketika Bapak tidak menjemput saya, atau karena ditinggal pulang sang kakak. Sebab dulu bapak dan mama selalu berpesan “kalau ada yang ajak pergi gak dikenal jangan ikut.”

Adik ini kemudian duduk di belakang saya, disusul teman saya. Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya di Kumala, saya menanyakan beberapa hal, untuk mengurangi rasa takutnya atau istilah kerennya saya sedang melakukan Interpersonal Communication untuk membangun trust diantara kita (ala-ala thesis) hahaha..

Dari percakapan kami, anak tersebut bernama Topang kelas 3 SD, dia anak kelima dari enam bersaudara, ibunya menjual di kantin sedang bapaknya adalah supir pengantar bahan bangunan. Setiap harinya Topang berangkat sekolah menggunakan angkutan umum dengan biaya 4000 rupiah, 2000 saat ke sekolah dan 2000 saat pulang sekolah. Kakaknya tidak bisa mengantar ke sekolah karena harus menjaga adiknya di rumah. Anaknya lugu juga cerdas dalam menjawab pertanyaan.

Satu hal yang membuat saya tertawa ketika teman saya mempertanyakan soal bapak yang singgah tadi.

“Dek om-om yang singgah tadi kenapa?”

“Mauka naantar kak” jawabnya.

“Kenapa tidak ikut?” saya penasaran.

“Takutka dicuri.”

Saya dan teman saya tertawa sambil berkata “dag takutki diculik sama saya?” Dia ikut tertawa tanpa menjawab pertanyaan. 😊😊

Akhirnya kami tiba di sekolah, dia tampak senang sekali, tersenyum memamerkan gigi ginsulnya dengan berkali-kali mengucap terima kasih, kami menunggunya hingga iya sampai di depan kelas, ia masih tersenyum saat tangannya melambai tanda pertemuan kami telah usai. Senyumnya tulus, matanya berbinar dan ucapan terima kasihnya hangat. He is so cute, i think..

Kami memutar arah mengulang perjalanan tadi, kembali ke tempat yang sudah kami rencanakan sebelumnya..

Bagi kami ini hal yang sederhana, tapi bagi dia bisa jadi bantuan kecil kami adalah kebahagiaan, kebahagiaan karena tidak harus berpanas-panas menunggu, kebahagiaan karena tiba di sekolah lebih cepat dari biasanya, dan tentu saja kebahagiaan karena dia bisa menyimpan uang 2000 nya untuk keperluan lain. Hihiii

Tetap semangat bersekolah dik, semoga kelak kamu menjadi anak yang bertanggung jawab dan menjadi salah satu yang mengharumkan nama bangsa. 😊

See you when I see you, dik. Terima kasih telah memberi kami satu kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama 😊😊