Kamu tak berhak bertahta diruang hati yang telah kamu jamah~

image

Malam semakin sunyi, kutatap layar laptop yang sedari tadi berisi catatan-catatan tugas yang harus segera diselesaikan. Ideku tak ada, pun semangatku sedang tidak menyala-nyala.
Disampingku, Vie sudah terlelap, mungkin dia lelah selepas pengkaderan jurusannya pekan ini. Jarang sekali kami bercerita minggu ini, mungkin karena kesibukan-kesibukan yang menyita hampir semua waktu kami. Biarkan dia terlelap, sebab esok dia harus kembali memenuhi segala kewajibannya.
Saya menghembuskan nafas, ketika jam menunjukkan 23:13 tapi ideku tak kunjung bertamu juga bertemu..

Hapeku kemudian berdering, pertanda ada pesan masuk..
Tengah malam begini? Hm.. mungkin dari t*lk*ms*l atau sm*rtfr*n, kataku.
Ternyata saya salah, pesan kali ini datang dari seseorang yang dulu melarangku mencarinya. Respon saya biasa saja, meski pikiranku mulai menerawang jejak-jejak pilu yang sudah lama tak ingin kukenang.
Ah.. kamu, dulu namamu selalu kunantikan muncul di layar hapeku.
Dulu, obrolanmu selalu kutunggu dari pagi hingga ujung malam.
Tapi itu dulu, saat kesabaranku kamu uji, keikhlasanku kamu uji.
Tapi sejak hari itu, ketika masing-masing dari kita terluka kemudian memilih untuk saling melupakan, maka pada hari itu juga kamu tak berhak tahu apa yang telah saya lewati, pun tak berhak bertahta di ruang hati yang telah kamu jamah.

Sorry for being your stranger, tapi tak ada yang paling tahu lukaku selain diriku sendiri.
Saya tidak salah jika menangisimu, juga tak salah ketika memaafkanmu, tapi saya salah jika membiarkan hati saya terluka berulang-ulang oleh orang yang sama..
Hidupku baik-baik saja, saat kamu memutuskan untuk tidak lagi datang.
Hatiku pun baik-baik saja, dengan dia yang kubiarkan masuk menyusuri ruang hatiku.
Tapi sekali lagi kamu tak berhak tahu apa yang telah saya lewati.
Bukankah kamu telah bahagia, dengan misteri yang ingin kamu pecahkan, dengan misteri yang menurutmu mampu mengalihkan dunia tentangku, dengan misteri yang mengajakmu melangkah kedepan beriringan..

Satu hal yang ingin kusampaikan, bahwa saya tak pernah membencimu, bahwa kamu tetap menjadi bagian terindah di masa itu, dulu.
Hari ini biarkan kesalahan lalu menuntunku menemukan yang tepat, biarkan dia menjadi serangkaian proses menjadi yang terindah di masa depan, saya tidak akan mengatakan dia lebih baik darimu, karena setiap orang adalah orang baik.
Biarkan Tuhan turut andil dalam skenario hidup kita, sebab Dia telah menciptakan manusia berpasang-pasangan~
Tak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?

Tidurlah, sebab misterimu menantimu di awal pagi.

Selamat Pagi, Sayang~

Hi sayang..

Pagi ini kamu tidak lupa mengucapkan selamat pagi, bukan?

Baiklah, biar aku yang memulai ucapan selamat pagi sebagai penyemangatmu hari ini. Selamat pagi, sayang 🙂

Mungkin aku terlalu gengsi untuk mengaku rindu padamu. Atau sekedar menyampaikan bahwa aku ingin bertemu denganmu..

Akhir-akhir ini kamu memang terlalu sibuk. Urusan kerjaanmu dikantor yang sudah deadline, juga kegiatanmu yang sudah mendekati hari H.

Bukannya aku tidak mengerti, tapi kesehatanmu. Aku hanya tak ingin kamu sakit, sebab cuaca juga sedang galau-galaunya.

Tapi jujur, aku selalu bangga sekaligus iri padamu, jiwa sosialmu dan aksimu dalam turun tangan langsung membantu orang banyak selalu membuat kamu terlihat luar biasa.. Kamu selalu bisa membagi waktumu meski kerjaanmu dikantor kutahu bukan pekerjaan yang mudah.

Dari sini aku hanya bisa mendoakan dan menyemangatimu, semoga kamu selalu sehat sayang, semoga perjuanganmu untuk menjadikanku teman hidupmu dilancarkan oleh-Nya..

Terima kasih atas waktumu menemaniku malam kemarin, terima kasih sudah memastikanku baik-baik saja disela-sela sibukmu..
Disini, aku menantimu 🙂

Dari
Yang kau sebut penyemangat 😉

Kau pikir itu tidak sakit, synk?

sudah lama tak kutatap wajah teduhmu, di balik pintu tempat segala hal bermula.

Ingin ku dekap dirimu seperti lebih dari setahun yg lalu, kemudian kukatakan bahwa aku sejak tadi menunggumu, aku merindukanmu..
Tapi aku tetap terdiam memandangi wajah dan tubuhmu yg semakin kurus.
Lantas, suara khasmu menyadarkanku, menanyakan keadaanku?
Aku membalas seadanya berusaha mengontrol diri yg sungguh sangat ingin mengucap rindu..
Tapi..
Kamu selalu saja memposisikanku sebagai kekasihmu, membuatku salah paham atas semua sikap baik dan kata-kata manismu..
Kamu masih selalu saja begitu memposisikanku sebagai perempuan yg tak ada gantinya setelah kekasih-kekasihmu..
Tapi ketika pagi datang, kulihat kamu beranjak pergi, mengabari yg sejak tadi malam sibuk kau kabari. Dan lagi, kulihat senyummu tak lagi untukku.
Kamu selalu begitu, datang dan pergi sesuka hatimu tanpa kepastian, tanpa rasa bersalah..
Aku memang kekasihmu ketika kita berdua duduk bersama, bercerita hal bodoh yg mungkin orang lain tak sempat pikir, aku juga kekasihmu ketika jemarimu pelan-pelan menghapus air mata rindu yg sudah sejak lama memusnahkan akal sehatku, aku kekasihmu malam itu.
Tapi diluar sana kutemui kau sedang duduk manis dengannya, kuhampiri mejamu dan bertanya layaknya teman, tapi kau diam kemudian menatapnya. Aku, kamu memang bukanlah kita. Kamu telah menjadi kita yg lain dengannya. Sedang aku bukan siapa-siapamu, meski malam kemarin masih kurasa jemarimu menenangkan tidurku.
Kau pikir itu tidak sakit, synk?

My Super Dad

Dear you..

My super hero, my super dad..

Kurasakan titik-titik air jatuh membasahi kedua pipiku tatkala kudengar suara adzan,,
Tepat saat itu juga aku memandangi belakangmu, semakin lama semakin kecil..
Tubuhmu semakin kurus,,
Kulitmu semakin gelap,,
Sebelum beranjak pergi aku melihatmu duduk diam sembari memijit mijit kakimu,,
Inginku, bersimpuh depanmu kemudian mengantikan posisi tanganmu untuk memijitimu, tapi entah mengapa seolah ada dinding pembatas yg tak bisa lagi ku tembus..

Sejak aku jauh darimu, kau tak lagi cerewet sama seperti saat aku masih disini, bercandamu tak sesering dulu, mungkin kamu telah lelah, atau bahkan mungkin kau juga punya rindu yang tak bisa kau sampaikan padaku..

Kulihat dari pandanganmu, kamu seringkali cemburu ketika perempuan yg melahirkanku bisa mendengar begitu banyak ceritaku, bisa menjadi sahabat untuk diriku, bisa memelukku menciumku kapanpun dia mau,, tapi kamu tidak, kita lebih banyak diam ketika sedang bersama, kalaupun bercerita bukan hal tentang diriku ataupun dirimu, kita lebih suka menertawakan hal2 kecil yg tak masuk akal dan itu yg selalu aku rindukan darimu..

Ingin sekali ku katakan jangan terlalu memaksakan diri bekerja,,
Ku tahu melanjutkan sekolahku adalah beban tersendiri untukmu, tapi kamu bahkan berkata padaku, aku bekerja untukmu nak, aku ingin kamu menjadi lebih dibandingkan aku dan mama-mu,,
Ketulusanmu tak pernah mampu ku balas,.

Andai kau tahu tak terbendung keinginanku untuk memelukmu, dalam shalat aku terkadang menangis memikirkan betapa kalian menyayangiku..
Kamu memang lebih banyak diam dibandingkan dia yg melahirkanku,,
Kamu lebih banyak setuju akan setiap keputusan2 yg aku ambil..

Ingin sekali kuceritakan kepadamu, tentang lelaki yg mulai masuk kehidupanku, tapi aku tak pernah mampu bercerita banyak padamu,..

Wakti kecil akulah yg selalu mengikutimu, tak peduli panas, hujan, aku selalu suka ikut denganmu, tapi beranjak dewasa, untuk bilang aku sayang kamu saja terlalu sulit untuk kuucapkan..

Kurasakan pelukmu dan ciummu hanya ketika aku akan pergi meninggalkanmu lagi, pada saat itu juga kau selalu menyelipkan nasehat2 untukku bisa lebih baik.

Aku tahu kaupun menyayangiku lebih dari dirimu sendiri, tapi kau juga sulit mengungkapnya..
Pada-nya kutitipkan doa-doa terbaikku untukmu..
Untukmu yg tak pernah lelah bekerja demi masa depanku,,
Untukmu yg menjagaku dengan ketulusan yg tak mampu kubalas,,
Untuk setiap keringatmu, maafkan aku yg belum mampu memberi apa-apa untukmu, meski diluar sana ku dengar engkau membanggakan anak gadismu yg sudah menyelesaikan s1-nya.. kudengar engkau dengan bangga menyebutku di depan teman2mu, sembari tersenyum bahagia.

Semua kulakukan untuk kalian, motivator terbesar dalam hidupku.. aku selalu mencintaimu, meski tak pernah kuungkap..
Panjang umurlah agar kelak kubahagiakan kalian dengan keringatku.

Aku menyayangimu Bapak sama seperti aku menyayangi perempuan yang melahirkanku :*

Perempuan yang Patah Hatinya~

Dear…

Kamu yang tak setia dan

perempuan yang telah patah hatinya

Selamat pagi, Bandung.

Tepat pukul 05:00 ketika saya memulai menulis surat ini. Kost masih sepi, yang bisa kudengar hanya suara jarum jam dan rintik air dari keran air di wc.

Pertanyaan kemudian muncul, untuk siapa surat ini akan kutulis? Dan kamu menjadi orang pertama yang kemudian menari dalam pikiranku. *kemudian bernafas panjang*

Apa kamu baik-baik saja disana? kamu tidak rindu?

Tapi, hari ini saya ingin menulis surat bukan untuk kamu saja tapi juga untuk para lelaki yang tak setia dan perempuan yang telah patah hatinya.

Pertanyaan yang selalu muncul tapi tak pernah terjawab adalah, apa yang sebenarnya lelaki cari?

Dulu, sekitar dua tahun yang lalu, kamu tiba-tiba mengakhiri hubungan kita dengan alasan kamu telah memiliki yang lain. Bagaimana mungkin, hubungan yang telah dipertahankan bertahun-tahun, berakhir hanya karena orang yang baru kamu temui kurang dari seminggu. Rupanya jarak tak mampu membuatmu mempertahankan kita.

Waktu berjalan, sampai hari ini kuakui saya tak pernah melupakanmu, kamu masih selalu menjadi topik pembicaraan yang hangat dibibirku. Sebagian orang menganggapku kuat, sebagian lagi menganggapku keras kepala dan sangat rapuh.

Tapi melupakanmu tak sesederhana yang orang lain pikirkan, bagiku melupakan sama halnya dengan berusaha mengingat orang yang tak pernah dikenal sebelumnya.

Dua tahun lebih berlalu, bukan waktu yang sebentar dan bukan hal yang mudah melewatinya.. kudapati kamu berulangkali dengan yang lain, dan kudapati diriku berulang kali menghapus kisah. Kesalahan kita sederhana, kita tak pernah tegas dengan hati kita, kamu memegangku dengan tangan kananmu sedang tangan kirimu juga memegang tangan yang lain, sedang saya menyerahkan kedua tanganku untuk kau pegang erat.. saya yang selalu membuka pintu tiap kali kamu datang, tapi rupanya kamu juga membuka pintu untuk siapa saja yang ingin singgah dihatimu, kamu terlalu jahat, synk.

Membalasmu adalah hal yang tak pernah bisa kulakukan, bahkan memaafkanmu saja sudah kulakukan sebelum kamu sempat mengucap maaf pada saat itu. Bagiku, membalas hanya akan menyakiti diri sendiri, bukankah menyakiti orang yang kita sayang sama halnya dengan menyakiti diri sendiri?

Kamu sangat beruntung karena mendapati perempuan yang tak pernah mendoakanmu hal buruk meski berulang kali kamu sakiti. kamu beruntung mendapati perempuan yang masih tersenyum manis, siap membantumu meski dia adalah orang yang paling sering kamu kecewakan.

Sampai hari ini yang menguatkanku adalah saya tak pernah merasa sendiri, begitu banyak orang yang menyayangiku, saya justru kadang kasihan melihatmu yang semakin kurus dan semakin berantakan. Tapi bukan lagi tugasku untuk mengurusmu, bukan lagi hakku untuk ikut campur dalam setiap urusanmu. Saya memilih untuk melepas kedua tanganku, tapi tidak membencimu. Dan dibalik semua luka yang kamu torehkan saya justru ingin berterima kasih atas banyak hal yang kemudian berubah sejak kamu dan aku tak lagi menjadi kita. Semesta sangat baik padaku.

Untukmu perempuan yang telah patah hatinya, jangan pernah berpikir bahwa dunia berakhir hanya karena satu kisah berakhir, hidupmu terlalu singkat untuk menangisi lelaki yang tak bisa menjaga perasaanmu. Cukup saya yang terlalu lama dalam kegelapan. Satu hal yang harus kalian tanamkan dalah hati adalah “Tuhan tak pernah menempatkanmu disituasi yang kamu tak bisa” jadi tetap sibukkan diri, tetap berkarya dan tetap punya hati yang cantik. Jangan khawatir soal luka, luka akan sembuh oleh waktu selama kamu juga ingin menyembuhkannya, selama kamu menerima takdirnya. Jika ingin menangis maka menangislah, tak ada yang salah dengan air mata pun tak ada yang salah dengan rindu. Sendiri bukan berarti tak berpindah tapi membuktikan bahwa kita cukup mampu menjaga diri sebelum dipertemukan dengan yang selayaknya. Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, itu janji Tuhan girls. Jadi tetap memperbaiki diri. Yang lalu semoga bisa jadi pelajaran berharga untuk kita dan orang-orang disekitar kita.

Dan untuk kamu lelaki yang tak setia, butuh berapa hati lagi yang kau hancurkan agar bisa setia? Bukankah kamu lahir dari rahim seorang perempuan? Menyakitinya sama dengan menyakiti ibumu, bukan? Semoga kamu menemukan yang kamu cari, semoga kamu selalu dilindungi dan semoga kamu bisa setia.

Tertanda,

Perempuan yang telah patah hatinya.

Jadikan Saya Rumahmu~

Dear,.

Sang penggenap.

Hi, apa kabarmu?

Kenalkan, saya adalah masa depanmu. Perempuan sederhana yg sedikit keras kepala dan susah dimengerti.

Entah harus mulai darimana mendeskripsikanmu, tapi hampir setiap sujudku kudoakan agar Tuhan menjagamu dan mempertemukan kita.

Kamu sebenarnya siapa? Pertanyaan yg selalu muncul dikepalaku. Apakah kamu temanku? Apakah kamu orang di masa laluku atau kamu justru orang baru yang bahkan belum pernah berkenalan denganku?

Tapi siapapun kamu, semoga kamu adalah yang terbaik yang dijanjikan-Nya.

Jika kamu ternyata adalah temanku, orang yg kukenal, maka biarkan saya tertawa dulu sebelum memelukmu erat..

Jika kamu adalah orang dari masa laluku, maka biarkan saya menangis dan menceritakan semua hal saat kamu tak disini, biarkan saya memukulmu manja atas kesalahanmu menyakitiku dulu. Setelah itu biarkan saya memelukmu erat.

Dan jika ternyata kamu adalah orang baru, maka biarkan saya belajar mengenalimu dulu, belajar dan tumbuh bersama.. Membangun masa depan yg mungkin baru kita bicarakan..

Jangan khwatir soal hatiku, ia memang sulit dibuka tapi bukan berarti tidak bisa. Ketika kamu berhasil maka selamanya kuncinya akan kamu pegang. Saya akan mencintaimu lebih dari kamu mencintaiku. Jadi selama kamu memperlakukanku baik hatiku akan selalu jadi milikmu.

Dimanapun kamu sekarang, semoga Tuhan selalu menjaga pandangan juga dirimu..

Jika suatu saat nanti kita bertemu, dan tiba saatnya kita menggenap, bolehkah saya meminta sesuatu?
Permintaanku cukup sederhana, kamu bisa memilih salah satunya atau keduanya:
1. Maukah kamu menyanyikanku beberapa lagu romantis yang mendeskripsikan saya dan kisah kita tepat di bawah langit beralaskan rumput? Atau
2. Maukah kamu membuatkanku sebuah video perjalanan kita, serta harapan-harapanmu kepadaku?
Agar kelak ketika kita bosan, kita bisa menontonnya bersama atau memperlihatkan ke anak-anak kita bagaimana kamu menyayangiku dulu, bagaimana kita berjuang bersama membangun masa depan.

Cukup sederhana bukan?
Saya memang bukan tipe perempuan yg menyukai kemewahan, bukan perempuan yg akan menuntutmu membeli ini itu,, dan bukan pula yang akan merubahmu ini itu, tetap jadi dirimu sendiri untuk menemukanku.

Jika suatu saat nanti kamu menggenapiku, jangan pernah lelah untuk mencintaiku, jangan pernah pergi tanpa alasan, dan jangan pernah berjanji atas hal yg tidak bisa kau tepati sebab saya adalah alarm yg akan selalu menagih janjimu. Haha
Sayapun tak bisa menjanjikan apa-apa, selain menemanimu berjuang dan melewati setiap kerikil didepan kita.

Dan jika dalam rumah kita nanti, kamu menemukanku menangis, cukup tenangkan saya lewat pelukmu, saya perempuan yg mudah menangis juga mudah tertawa. Bahkan kadang saya tertawa sambil menangis. Saya memang sedikit aneh juga cerewet. Jadi jangan heran ketika nanti sebelum tidur akan banyak cerita-cerita yg tidak penting kamu dengar dari bibirku.

Siapapun kamu? Semoga benang merah segera menghubungkan kita. Menhubungkan puzzle hati kita hingga menjadi hati yang utuh.

Tumbuhlah bersamaku, bahagia dan menangislah bersamaku, hidup memang kadang tak mudah tapi bersama akan menjadi lebih mudah. Jadikan saya rumahmu, bukan sekedar tempatmu pulang dari rutinitasmu tapi juga tempat hatimu kembali saat kamu lelah juga bahagia.

Sampai bertemu sang penggenap, love on, live on. I will love you 😍

Tertanda,.
Yang Menantimu.

Kamu Alasanku untuk Tetap Hidup~

Untukmu yang selalu kusebut dalam sujudku,.

Sesuai tema hari ini, mengungkapkan seberapa besar kita mencintai seseorang. Sebagian mungkin akan memilih menulis untuk kekasihnya tapi aku memilih menulis untuk orang yang sampai hari ini tak mampu kubalas semua jerih payahnya..

Melalui surat ini, ingin kusampaikan bahwa saya disini dalam keadaan baik-baik saja, jadi jangan mengkhawatirkanku, ma pah.
Kuakui, saya membenci jarak yang memisahkan kita. Karenanya tidak lagi kulihat wajahmu yang lelah juga bahagia sepulang kerja, tidak lagi kunikmati makan malamku bersama kalian.

Hal lain yang kubenci adalah ketika usiaku semakin dewasa kamu juga semakin menua.. Bagaimana jika saya tak mampu membalas semua jerih payahmu selama ini?

Dulu sewaktu saya belum mampu melihat, belum mampu berbicara, bukankah kamu yang dengan sabarnya menemaniku berbicara, menceritakanku hal-hal baik meski kadang kubalas dengan tangisan. Saat saya menangis kamu akan dengan sabarnya menenangkanku, berusaha memahamiku dan menuruti inginku. Mengajarkanku berjalan, berhitung, dan mengenalkanku dunia dengan caramu yang menakjubkan.. Juga saat kamu dengan sabarnya mengantarku dihari pertama sekolah menungguku hingga pulang..

Sekarang lihatlah, ketika saya semakin dewasa waktuku justru lebih banyak kuhabiskan dengan teman-temanku, lebih banyak bercerita kepada mereka, lebih banyak jalan dengan mereka dan lebih sering berkomunikasi dengan mereka. Maafkan saya akan hal ini.

Hangatnya percakapan kita di ruang keluarga adalah moment yang selalu kurindukan.

Sendiri disini tak pernah muda mah, pah. Apalagi untuk seorang gadis sepertiku yang segala sesuatunya masih diurus mama.. Tapi jauh dari kalian juga mengajarkanku banyak hal, dan juga menyadarkanku kemana saya harus kembali ketika lelah dipecundangi dunia.
Jika bisa memilih, saya mungkin akan memilih masa kecilku saat hal yang paling sakit hanya ketika jatuh, berkelahi dengan si kakak, di cubit mama atau dimarahi bapak. Dibandingkan harus terpisah seperti ini, menemukan ruang kosong nan hampa saat pulang kuliah.. Ternyata menjadi dewasa tidak semudah yang saya pikirkan mah, pah.

Saya selalu berpikir kalian adalah malaikat yang Tuhan ciptakan untuk saya, kita memang bukan keluarga konglomerat juga bukan keluarga pejabat atau orang kaya terpandang, dulu waktu saya masih duduk dibangku SMP saya bahkan malu kalau orang-orang bertanya pekerjaan bapak saya, sebab bapak mereka adalah pejabat yang sehari-harinya diruang berAC sedang bapak saya sehari-harinya berada dibawah terik matahari. Tapi satu hal yang kemudian menyadarkanku bahwa kamu membesarkanku, membiayaiku dengan hasil keringat kamu sendiri, kamu mengajarkanku kesederhanaan hidup yang kadang orang lain lupa.

Sampai hari ini, hal terbaik dalam hidupku yang mungkin bisa kupersembahkan adalah ketika saya menyelesaikan S1.ku saat dimana Bapak juga Mama memelukku sambil menangis. Hal lain yang mungkin bisa kuberikan hanya doa tulus disetiap sujudku, juga menjaga nama baik dan mendengarkan nasehatmu..

Terima kasih untuk setiap cinta dan kasih sayangmu sampai hari ini, terima kasih sudah sangat mengerti keadaanku, juga luka dihatiku. soal pernikahan, maafkan saya yang belum ingin membicarakannya mah,pah sebab saya masih berjuang untuk toga keduaku yang akan kupersembahkan untuk kalian. Saya berjanji akan memperkenalkan dia pada waktunya, dia yang Tuhan kirimkan untuk melengkapiku, dia yang akan menemaniku, menjagaku, mencintaiku sama dengan kalian mencintaiku dan juga dia yang akan menemaniku memeliharamu dimasa tuamu.. Terima kasih untuk setiap doamu yang memudahkan jalanku, saya mungkin bukan anak yang baik, kadang lupa menanyakan kabarmu dalam sehari tapi kamu adalah orang yang saya cintai tanpa batas, tanpa alasan juga tanpa syarat. Sehat selalu mah, pah, doakan anakmu yang tengah berjuang membahagiakanmu..

Biarkan aku memelukmu dari jauh, sebab rinduku sudah tak mampu kutolerir.

Tertanda
Gadis kecilmu.

Terima Kasih Telah Pergi~

Hi kamu..

Surat kali ini kembali kutujukan kepada kamu sebagai ucapan terima kasihku.

Pertama-tama biarkan saya bertanya dulu.
Kamu bahagia selama tidak denganku? Sudah menemukan yang kamu cari?

Baiklah..
Awalnya, berakhir atau lebih tepatnya putus darimu memang menjadi suatu musibah bagiku, hari-hari yg dulunya berwarna seketika menjadi awan gelap yang siap menumpahkan hujannya kapan saja..
Awalnya, kuakui saya kecewa, teramat kecewa malah tapi tidak pernah sampai membencimu.
Keputusanmu hari itu untuk mengakhiri kita, sungguh hanya kuanggap sebagai lelucon penggodamu, tapi ternyata tidak, kita betul-betul berakhir setelah jalan panjang bebatuan yang kita tempuh.. Saya seharusnya membencimu waktu itu dan tidak lagi memberimu ruang di hatiku tapi saya terlalu lemah untuk melawanmu, berulang kali kamu datang justru kuanggap sebagai cahaya untuk kita kembali menyatu, khayalanku terlalu tinggi hingga harus kubenturkan kepalaku ke tembok agar sadar kamu milik yang lain, kamu mempermainkanku. Sekali lagi, harusnya saya membencimu..

Tapi bagiku, kebencian hanya menyakiti diriku sendiri.. Saya tidak ingin hati yang selama ini kumiliki ternoda hanya karena rasa benciku padamu, bukankah hati yang buruk maka buruk pula yg lain? Itu yg tidak saya inginkan..

Tapi baik padamu, juga menyakiti diriku sendiri, berpura-pura tegar setiap kali melihatmu lalu lalang disampingku sungguh ujian sabar yg luar biasa. Saya harus tetap tersenyum meski airmataku sedang ingin mengalir tanpa jeda.
Baik padamu juga menjadi bom untuk diriku sendiri, kecaman dari orang-orang sekitarku sudah seperti alarm yg selalu mengingatkanku. Tidak sedikit yg memprotesku, tidak sedikit yg menyebutku keras kepala.. Tapi terima kasih kepada kalian semua yang selalu siap mengomentariku, itu artinya kalian peduli.

Tanpamu tak pernah mudah terlebih ketika saya juga harus kehilangan motorku waktu itu. Saya terpaku dengan kebiasaan kita. Karena mengubah kebiasaan itu yang sulit. Saya jatuh berkali-kali dan setiap kali jatuh saya harus merangkak lagi, dukungan dari yang menyayangiku kujadikan motivasi untuk tetap hidup, untuk tetap berjalan tanpa kamu, sekali lagi seharusnya saya membencimu.

Sampai hari ini, setelah perjalanan panjang nan melelahkan, saya justru ingin berterima kasih padamu. Kepergianmu bukan lagi kuanggap musibah tapi peluang untukku menemukan yang lebih baik. Meski kuakui saya mungkin terlalu lama menyadarinya. Karena kamu, saya akhirnya menghabiskan berjam-jam waktuku untuk membaca novel yang tidak jarang membuatku merasa ingin mati saja dan kemudian berucap saya tak sendiri banyak perempuan diluar sana yg nasibnya sama denganku. Karenamu kuhabiskan waktuku berjam-jam duduk manis menuliskan tentang kita, pada akhirnya kamu menjadi inspirasiku menulis. Karenamu, hal-hal yang tidak pernah bisa kulakukan menjadi bisa kulakukan. Karenamu saya menyibukkan diri. Karenamu saya menjadi lebih mandiri. Karenamu saya menjadi lebih bijaksana.. Dan karena kepergianmu saya menjadi hobby jalan-jalan, sebab berdiam diri justru menjadi wadah mengingatmu, waktu senggang selalu menyeretku ke masa lalu. Sungguh kamu adalah ujian sabar dan ikhlas bagiku.

Terima kasih karena dulu telah mencintai saya. Terima kasih karena dulu selalu mendampingi saya dimanapun. Terima kasih karena dulu selalu memperhatikan kesehatanku. Terima kasih untuk dua tahun lebih kebersamaan kita yang tidak mudah. Terima kasih untuk semua pemberianmu baik benda atau apapun terlebih waktumu yang mungkin tidak bisa kubalas. Rasanya semua ucapan terima kasihku waktu itu sudah kamu favoritekan di akun twittermu.
Dulu, kita berhasil membuat orang lain iri, dan membuat saya merasa jadi perempuan yg beruntung karena memiliki laki-laki sepertimu. Tapi itu dulu. Kamu lelaki yang baik, penuh perhatian tapi untuk urusan perasaan kamu bukan lelaki yang bertanggung jawab, maafkan saya harus mengatakan ini.

Sekarang, ayo berpetualang di dunia kita masing-masing. Kamu dengan perempuanmu dan saya dengan lelaki yang akan Tuhan kirimkan untukku..

Menunggumu yang pergi sudah terlalu menyita banyak waktuku, maka menunggu yang akan datang mungkin takkan lagi sesulit dan semelelahkan waktu saya menunggumu..

Seseorang pernah mengirimiku gambar yang bertuliskan “Jodoh udah ada yang atur, dekati aja yang ngaturnya” akhirnya membuat saya semakin ingin mendekati-Nya, memintanya dari sang pencipta-Nya untuk menjadi ladang amalku di dunia, semoga perkara yang satu ini dimudahkan.. Amin

Terima kasih semesta..
Life must go on..

Tertanda
Yang kamu tinggalkan,.

Kamu yang Tak Pernah Usai

Sudah lama hujan tak turun, pepohonan disamping rumah juga ikut kekeringan.

Lantas apa kabar kamu si penikmat hujan? Masihkah hari-harimu dihadapkan dengan masa lalu yang tak pernah usai atau kamu telah disibukkan dengan masa depan yang tak pernah pasti?
“Aku tak pernah bahagia sejak kepergianmu” tetiba suara itu menyadarkanku dari balik pintu yang tiba-tiba terbuka.
Saya mengenal baik suara itu, dan saya tahu pasti siapa dia.
“hai, masuk” dengan senyum yang sedikit kupaksakan dan berusaha menyembunyikan rasa kagetku.
Dia kemudian duduk di kursi tempat dia biasa duduk, ia mengenal baik seluruh bagian dalam rumah sebab ia pernah menjadi bagian yang membahagiakan di rumah ini.
Dia masih terdiam, menunduk tak ingin melihatku saat sapaku mulai menyadarkannya “apa kabar?” ia terus menunduk membuat saya kikuk entah harus bagaimana, rasa takutku mulai muncul, mulai berpikir apalagi yang salah dari semua tindakanku.
Saya sedang asyik mengganti channel TV ketika tiba-tiba dia bersuara “Kamu  sakit? Matamu bengkak?”
“hm.. nggak. Akhir-akhir ini susah tidur” kemudian hening~~
Entah kenapa memulai percakapan denganmu adalah bagian tersulit ketika kita bertemu, dan maaf jika harus kukatakan bertemu denganmu adalah hal yang tak pernah kuinginkan.
“aku tak pernah bahagia sejak kepergianmu” kalimatnya kembali berulang.
“dulu kamu pernah bilang, melihat orang lain yang kita sayang berbahagia akan membuat diri sendiri jauh lebih bahagia. Kamu bohong. Bagiku melihatmu bahagia dengan dia adalah sebuah kehancuran” Dia melanjutkan.
“mungkin karena hatimu tidak menerima kepergianku, mungkin Karena hatimu tidak mengikhlaskanku” jawabku
“berhenti bicara soal keikhlasan, sebab aku bukan kamu yang bisa menerima ketetapannya, aku bukan kamu yang bisa melihat orang yang kamu sayang berbahagia, aku bukan kamu yang bisa pura-pura kuat, aku bukan kamu yang selalu bisa membuka pintu maaf untuk siapa saja yang menyakitimu, aku bukan kamu” katamu dengan nada yang penuh emosional
Saya yakin sekali tetangga diluar sana sedang diam-diam mendengarkan keributan di rumah ini.
“aku tahu aku salah, aku tahu aku egois. Aku salah karena telah meninggalkanmu, aku salah karena telah memilih dia, dan aku salah karena tidak bisa melihatmu bersamanya. Jika bisa melupakan, kamu adalah perempuan paling pertama ingin kulupakan sejak aku memutuskan meninggalkanmu. Tapi semakin saya mencoba dengan yang lain, kamu selalu saja menjadi bayangan yang tak bisa kukesampingkan. Aku tak pernah bahagia sejak memutuskan meninggalkanmu.” Kalimatnya berubah dan nada suaranya penuh penyesalan.
Saya masih terdiam, berusaha tidak melibatkan perasaanku didalamnya.
“sudah?” kataku
“Bisa saya bicara?”
Dia terdiam, sambal menatapku dengan tatapan matanya yang siap menerkam jika saya salah bicara.
“jika kamu mencintai setulus hati, lantas cinta kamu dikhianati, apa reaksi kamu? Marah? Jelas. Saya pernah merasakan itu dan jangan pernah tanyakan sakitnya bagaimana. Bukan perkara mudah untuk bisa melewatinya, butuh bertahun-tahun lamanya, butuh hati yang tidak lagi sekedar kuat, butuh kesabaran yang tak terhingga. Kamu tahu kenapa pada akhirnya saya menyibukkan diri? Semua saya lakukan karena ingin melupakanmu. Siapa bilang bayangmu tak pernah ikut serta. Orang tuaku pernah berpesan padaku, jika orang lain menyakitimu maka cara terbaik untuk membalasnya adalah dengan tidak membalasnya. Itu sebabnya aku memilih memaafkanmu. Bukan satu atau dua kali kamu datang, memperlihatkan dan memamerkan pasanganmu didepan mataku. Tapi kamu lengah, lupa bahwa menunggu ada batasnya. Hingga pada akhirnya aku memilih tidak lagi berusaha melupakanmu tapi menerima bahwa apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan dan bukankah yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah. Aku mulai mengikhlaskanmu. Dan mulai memikirkan kebahagiaanku sendiri. Dulu kamu pernah bertanya mengapa aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun, jawabku sederhana karena aku ingin kelak dia yang masuk ke hidupku tidak lagi terganggu oleh adanya kamu dihatiku.”
Kamu diam mendengar penjelasanku, tapi kutahu hatimu sedang tidak tenang~
“jika kamu tidak bahagia sejak tidak bersamaku, mengapa diluar sana kamu asyik bersamanya? Dan jika kamu bertanya apa aku bahagia dengan hidupku, tentu saja ia. Saya selalu bahagia atas hidup yang Tuhan beri, bukankah pernah kusampaikan padamu, semesta selalu baik padaku. Jika kamu tidak bahagia sampai hari ini, mungkin kamu lupa bersyukur atau mungkin karena kamu telah terlalu jauh dari-Nya.” Kataku mencoba menenangkan.
Tiba-tiba saja kamu berdiri dari tempat dudukmu, melemparkan remote TV yang tidak bersalah.
“jika aku tidak bahagia, selamanya kamu tidak akan bahagia”
Terdengar suara pagar rumah yang didorong dengan kerasnya, kamu pergi meninggalkan saya yang sedang menyeka air mataku.
Handphoneku berbunyi, bertanda ada BBM masuk.
Sebuah kiriman foto dari dia yang sedang jadi perbincangan tadi.
Kubalas chatnya seadanya, sebab aku tak ingin dia tahu kalau aku diam-diam sedang merindunya :’)
~~~~~
“hai, bisakah kita bertemu?”

Baksos Lentera Negeri

Sabtu  03 Oktober 2015 pukul 09:00 pagi. Saya dan rombongan Bakti Sosial Lentera Negeri sedang di perjalanan menuju Kota Pangkajene Kepulauan (Pangkep), menuju salah satu dermaga yang akan kami jadikan persinggahan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke salah satu pulau di Pangkep, Pulau Kulambing. Pulau Kulambing adalah satu diantara banyak pulau di Pangkep, terletak di desa Mattiro Uleng Kecamatan Liukang Tupabiring Utara.

Waktu menujukkan pukul 11:00 saat kami tiba di dermaga Maccini Baji, matahari berasa tepat diatas kepala tapi semangat para relawan mengalahkan panasnya matahari diatas sana.. Memerlukan waktu kurang lebih sejam untuk bisa sampai di pulau Kulambing, pemandangan sekitar dan birunya laut yang menyatu dengan birunya langit sangat sayang untuk dilewatkan.

1443978035778

Pukul 14:00 agenda pertama kami adalah kunjungan dan renovasi Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Ada tiga TPA yang menjadi sasaran kegiatan kami, selain merenovasi kami juga membuat perpustakaan mini untuk adik-adik disana, juga memberikan alat tulis. Inilah yang menjadi tujuan utama kami, membantu memajukan TPA dan menumbuhkan semangat baca adik-adik, bagi kita mungkin sederhana tapi bagi mereka yang jauh dari kehidupan kota, kedatangan dan sedikit bantuan dari kami adalah cahaya yang akan menjadi penerang bagi masa depan mereka.

14444654753411444465576906

Setelah berkunjung ke TPA, agenda selanjutnya adalah Games dan Penyuluhan kesehatan gigi. Ini diluar ekspektasi saya, awalnya saya mengira hanya akan ada sekitar 70 anak dengan wajah malu-malu menunggu instruksi dari kami, tapi faktanya ada lebih dari 100 anak dengan antusiasnya menunggu kami di lapangan, bukan hanya anak-anak tapi remaja, ibu-ibu, bapak-bapak bahkan mungkin sepertiga dari warga pulau berkumpul di lapangan. Luar biasa.

12112100_10200819992617996_187562086006609152_n

Tantangan terberat adalah menyatukan adik-adik tanpa bantuan pengeras suara. Mungkin anda bisa membayangkan bagaimana rasanya berteriak di alam terbuka menghadapi lebih dari 100 anak dengan mulut yang hampir tak pernah berhenti mengoceh. Hahaa.. sungguh sangat menyenangkan.

Jika kalian bertanya apakah kami lelah? Tentu saja, iya. Saya sendiri bahkan tidak bisa menghitung berapa kali saya mengelilingi lapangan sore itu hanya untuk mengontrol jalannya games di setiap pos. Tapi kepuasaan adik-adik yang terpancar dari senyum di wajah mereka adalah obat lelah yang mujarab. Mereka tidak hanya diajak bermain tapi juga diberi arahan dan mempraktekkan cara menyikat gigi yang benar. Antusiasme mereka dan keterlibatan orang tua mereka adalah suatu indikasi bahwa kedatangan kami telah memberi energi positif kepada mereka.

Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu gadis yang umurnya kurang dua tahun dari saya, saya menanyakan perihal kesibukan dan pendidikannya, saya sempat terbawa perasaan atau istilah kerennya ‘baper’ pada saat mendengar jawabannya “tidak sekolah ma kak, dilarangka sama mamaku, dulu mauka lanjut SMA tapi haruski ke kota atau ke Labakkang kalau mauki lanjut, tapi mamaku tidak kasika izin, disini sekolah cuma ada SD sama SMP. Jadi sekarang tinggal dirumah saja bantu orang tua”.

Kegiatan kami tidak berhenti sampai disini, keesokan harinya kami mengajak adik-adik dan ibu-ibu untuk senam bersama, beberapa dari ibu-ibu juga memeriksakan kesehatannya. Kegiatan dilanjutkan dengan memungut sampah yang ada di sekitar lapangan. Semangat adik-adik tidak pernah surut, pun semangat mereka mengalir kepada seluruh relawan untuk tetap aktif bergerak, bermain, dan bersosialisasi dengan warga sekitar.

14444653282021444465417980

Banyak hal yang menarik di pulau ini, hidangan cumi-cumi yang lezat, keramahan warga sekitar, antusiasme adik-adik, juga pemandangan ketika air sedang surut. Bonus untuk relawan bisa mandi-mandi dan berfoto di laut lepas.

1444004941831

Di balik semua itu, ada hal yang harus kita syukuri juga harus kita sadari bahwa diluar sana masih sangat banyak anak-anak yang membutuhkan semangat juga kepedulian.  Ini bukan tentang sekedar jalan-jalan dan bakti sosial, tapi bagaimana kita melibatkan hati dalam setiap perjalanan, bagaimana kita menularkan energi positif kepada mereka, meyakinkan bahwa masa depan menanti untuk diwujudkan. Semoga kedatangan kami menjadi cahaya, menjadi penyemangat untuk tetap belajar.

Terima kasih untuk para relawan, donatur, partisipan, dan semua pihak yang telah terlibat untuk kelancaran Bakti Sosial Lentera Negeri. Semoga segala pengorbanan waktu, tenaga dan apapun itu adalah berkah untuk kita semua. Jangan pernah lelah berbuat baik karena ini bukan tentang saya, kamu, dia ataupun mereka tapi tentang kita berbagi bersama untuk anak negeri. 🙂

12091210_710819532383750_1836773251017071158_o