Kamu yang Tak Pernah Usai

Sudah lama hujan tak turun, pepohonan disamping rumah juga ikut kekeringan.

Lantas apa kabar kamu si penikmat hujan? Masihkah hari-harimu dihadapkan dengan masa lalu yang tak pernah usai atau kamu telah disibukkan dengan masa depan yang tak pernah pasti?
“Aku tak pernah bahagia sejak kepergianmu” tetiba suara itu menyadarkanku dari balik pintu yang tiba-tiba terbuka.
Saya mengenal baik suara itu, dan saya tahu pasti siapa dia.
“hai, masuk” dengan senyum yang sedikit kupaksakan dan berusaha menyembunyikan rasa kagetku.
Dia kemudian duduk di kursi tempat dia biasa duduk, ia mengenal baik seluruh bagian dalam rumah sebab ia pernah menjadi bagian yang membahagiakan di rumah ini.
Dia masih terdiam, menunduk tak ingin melihatku saat sapaku mulai menyadarkannya “apa kabar?” ia terus menunduk membuat saya kikuk entah harus bagaimana, rasa takutku mulai muncul, mulai berpikir apalagi yang salah dari semua tindakanku.
Saya sedang asyik mengganti channel TV ketika tiba-tiba dia bersuara “Kamu  sakit? Matamu bengkak?”
“hm.. nggak. Akhir-akhir ini susah tidur” kemudian hening~~
Entah kenapa memulai percakapan denganmu adalah bagian tersulit ketika kita bertemu, dan maaf jika harus kukatakan bertemu denganmu adalah hal yang tak pernah kuinginkan.
“aku tak pernah bahagia sejak kepergianmu” kalimatnya kembali berulang.
“dulu kamu pernah bilang, melihat orang lain yang kita sayang berbahagia akan membuat diri sendiri jauh lebih bahagia. Kamu bohong. Bagiku melihatmu bahagia dengan dia adalah sebuah kehancuran” Dia melanjutkan.
“mungkin karena hatimu tidak menerima kepergianku, mungkin Karena hatimu tidak mengikhlaskanku” jawabku
“berhenti bicara soal keikhlasan, sebab aku bukan kamu yang bisa menerima ketetapannya, aku bukan kamu yang bisa melihat orang yang kamu sayang berbahagia, aku bukan kamu yang bisa pura-pura kuat, aku bukan kamu yang selalu bisa membuka pintu maaf untuk siapa saja yang menyakitimu, aku bukan kamu” katamu dengan nada yang penuh emosional
Saya yakin sekali tetangga diluar sana sedang diam-diam mendengarkan keributan di rumah ini.
“aku tahu aku salah, aku tahu aku egois. Aku salah karena telah meninggalkanmu, aku salah karena telah memilih dia, dan aku salah karena tidak bisa melihatmu bersamanya. Jika bisa melupakan, kamu adalah perempuan paling pertama ingin kulupakan sejak aku memutuskan meninggalkanmu. Tapi semakin saya mencoba dengan yang lain, kamu selalu saja menjadi bayangan yang tak bisa kukesampingkan. Aku tak pernah bahagia sejak memutuskan meninggalkanmu.” Kalimatnya berubah dan nada suaranya penuh penyesalan.
Saya masih terdiam, berusaha tidak melibatkan perasaanku didalamnya.
“sudah?” kataku
“Bisa saya bicara?”
Dia terdiam, sambal menatapku dengan tatapan matanya yang siap menerkam jika saya salah bicara.
“jika kamu mencintai setulus hati, lantas cinta kamu dikhianati, apa reaksi kamu? Marah? Jelas. Saya pernah merasakan itu dan jangan pernah tanyakan sakitnya bagaimana. Bukan perkara mudah untuk bisa melewatinya, butuh bertahun-tahun lamanya, butuh hati yang tidak lagi sekedar kuat, butuh kesabaran yang tak terhingga. Kamu tahu kenapa pada akhirnya saya menyibukkan diri? Semua saya lakukan karena ingin melupakanmu. Siapa bilang bayangmu tak pernah ikut serta. Orang tuaku pernah berpesan padaku, jika orang lain menyakitimu maka cara terbaik untuk membalasnya adalah dengan tidak membalasnya. Itu sebabnya aku memilih memaafkanmu. Bukan satu atau dua kali kamu datang, memperlihatkan dan memamerkan pasanganmu didepan mataku. Tapi kamu lengah, lupa bahwa menunggu ada batasnya. Hingga pada akhirnya aku memilih tidak lagi berusaha melupakanmu tapi menerima bahwa apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan dan bukankah yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah. Aku mulai mengikhlaskanmu. Dan mulai memikirkan kebahagiaanku sendiri. Dulu kamu pernah bertanya mengapa aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun, jawabku sederhana karena aku ingin kelak dia yang masuk ke hidupku tidak lagi terganggu oleh adanya kamu dihatiku.”
Kamu diam mendengar penjelasanku, tapi kutahu hatimu sedang tidak tenang~
“jika kamu tidak bahagia sejak tidak bersamaku, mengapa diluar sana kamu asyik bersamanya? Dan jika kamu bertanya apa aku bahagia dengan hidupku, tentu saja ia. Saya selalu bahagia atas hidup yang Tuhan beri, bukankah pernah kusampaikan padamu, semesta selalu baik padaku. Jika kamu tidak bahagia sampai hari ini, mungkin kamu lupa bersyukur atau mungkin karena kamu telah terlalu jauh dari-Nya.” Kataku mencoba menenangkan.
Tiba-tiba saja kamu berdiri dari tempat dudukmu, melemparkan remote TV yang tidak bersalah.
“jika aku tidak bahagia, selamanya kamu tidak akan bahagia”
Terdengar suara pagar rumah yang didorong dengan kerasnya, kamu pergi meninggalkan saya yang sedang menyeka air mataku.
Handphoneku berbunyi, bertanda ada BBM masuk.
Sebuah kiriman foto dari dia yang sedang jadi perbincangan tadi.
Kubalas chatnya seadanya, sebab aku tak ingin dia tahu kalau aku diam-diam sedang merindunya :’)
~~~~~
“hai, bisakah kita bertemu?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s