Saat Benci Bermula~

Sudah dua hari kubiarkan tubuhku terkurung di ruang 3×3 ini, rasa pusing dan muntah berkali-kali cukup menjadi alarm untuk segera beristirahat dari beberapa kesibukan akhir-akhir ini.

Hari ini, meski belum begitu pulih, saya memaksakan diri untuk ikut salah satu kegiatan kerelawanan, berkeliling naik motor untuk menyampaikan amanah kepada adik-adik yang membutuhkan, hujan turun tanpa jeda, salah satu relawan yang bajunya basah mengatakan “kak hujannya awet” yang kemudian mengingatkan saya akan postingan kemarin “bekas hujan di jendela mobil”.  Saya sudah tahu pasti, pulang dari sini badanku akan menggigil dan kembali merasakan demam semalam. Ah aku, terkenal cukup keras kepala untuk beberapa hal, termasuk kesehatan.

Di rumah, saat di sekililing sudah mulai gelap, menampakkan kuasa-Nya akan pergantian siang dan malam, kutemui diriku terbaring lemas di ruang yang menjadi tempat favorit untuk berlama-lama. Seharusnya, malam ini kuhabiskan waktuku untuk membaca kembali salah satu buku yang akan dipresentasikan besok di ujian final. Seharusnya malam ini semangat belajarku menyala-nyala karena besok adalah final terakhir semester 3. 3 semester yang menguras begitu banyak waktu, pikiran dan emosi akhirnya akan terlewati.

Karena tidak ingin membaca, saya memilih untuk tidur, tidur lebih awal sepertinya akan memulihkan tenaga, tetapi rasanya ini terlalu pagi untuk tidur. Teringat pada satu pesan yang belum kubaca, jadilah saya menatap layar hape berlama-lama. Kutemukan namanya dengan jumlah pesan terbanyak, 209 pesan dalam waktu 3 hari, kubaca dari pesan pertama hingga pesan ke 209, speechless!! Isi pesan yang tak seharusnya, emosi yang tak seharusnya dan kemungkinan-kemungkinan yang tak seharusnya.

Dulu saya selalu mendengar orang-orang berkata cinta begitu mudah menjadi benci, begitupun sebaliknya. Tapi saya mengaku kalimat ini tidak pernah bisa kupercaya, sebab saya sendiri tidak pernah ingin membenci siapapun yang menyakiti saya, bukankah setiap orang adalah sebaik-baik ciptaan Allah yang dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan? Maka tidak sepatutnyalah kita membenci akan peristiwa menyakitkan atau kesedihan yang orang lain lakukan kepada kita. Mama selalu bilang “jadilah orang baik dimanapun, untuk siapapun tanpa terkecuali”. Dan inilah yang membuat saya tidak pernah ingin membenci siapapun. Tapi darimu, saya mulai paham bagaimana benci bermula, sederhana saja, ketika orang yang menurutmu paling kamu sayangi, tidak lagi ingin peduli pada setiap yang terjadi padamu, ketika orang yang paling bisa menenangkanmu, pergi tanpa menoleh kembali. Hal sederhana saja tapi cukup menjadikan benci tumbuh di hati yang tak pernah lapang.

Jika kita ingin menghitung-hitung kesalahan, rasanya tidak wajar atas semua hal yang keluar dari mulutmu, atas setiap caci pada dia yang tak mampu lagi memahamimu emosimu, dia mungkin pernah bertekuk lutut padamu, membiarkan dan menerima setiap lakumu, memahami dan menenangkanmu dari setiap masalahmu. Tapi dia bukan lagi dia, dia kini melepasmu dengan sebaik-baik pemahaman, dia yang kini tidak lagi ingin mengulang rasa sakit itu, dia yang tidak lagi ingin menikmati sesak dimalam-malamnya. Silahkan membenciku, sumpah serapahmu kubalas dengan doa tulus agar hatimu tenang. Silahkan menatapku dengan tatapan yang tajam. Tapi kupesankan kepadamu, tak ada hidup yang tenang jika benci bersemi di hati yang mencinta.

mawar-hitam

Maaf, untuk setiap hal yang menyakitkan.

Biarkan saya menikmati hari-hariku dengan dia yang membuatku jatuhcinta pada percakapan-percakapan tengah malam bersamanya.

Maaf, jika lisanku tak mampu kujaga, jika maafku tak mampu mengobati, jika diamku memicu sakit kepalamu.

Sekali lagi MAAF.

Selamat terluka, kelak kamu akan belajar bijak dari segala hal yang menyakitkan..

Bangkitlah, semangatlah~

-HA-