Aku Bukan Cinta dan Tuan Bukan Rangga~

Kepada Tuan yang sedang marah..

Bolehkah aku bercerita tentang kita?

Satu bulan ke depan jika ingatmu masih padaku maka genaplah 6 tahun perjalanan mengenalmu lebih jauh. Apa juga untungnya mengingat, toh antara aku dan Tuan tidak pernah ada ikatan jelas setelah Tuan memilih untuk berpindah.

Kisah ini, adalah proses panjang yang paling mempengaruhi hidup saya. jika saja setiap episodenya dituliskan, mungkin rekornya bisa melebihi sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” yang mendekati 2000 episode, sesuatu yang sangat luar biasa.

Tapi Tuan, tulisan kali ini mungkin sama saja dengan catatan-catatan pilu yang dulu sempat kutuliskan. Kamu bisa jadi membencinya karena karaktermu kubuat antagonis di setiap ceritaku. Tapi tidak masalah Tuan, aku kemudian menjadi terbiasa oleh setiap lakumu yang diluar kendalimu dan oleh setiap ucapanmu yang terpengaruh emosimu.

Jika Tuan berkata aku adalah orang yang paling menyakiti Tuan, maka tidak apa, biarlah sesekali aku mencoba peran antagonis yang Tuan tuduhkan kepadaku. Tapi, sebelum Tuan mencaci lebih jauh, bolehkah aku bertanya pada Tuan? Perihal siapa aku dihati dan hidup Tuan?

Tuan telah mengakhiri hubungan ini sejak Tuan menyelesaikan Studi beberapa tahun lalu, alasan Tuan mengakhiri adalah hal yang tidak pernah bisa kuterima, dulu. Butuh beberapa tahun untuk bisa menerima tapi tidak dengan melupakan. Kukira dengan kembali menjadi teman semua akan baik-baik saja, kukira benteng yang kubangun tentangmu tidak akan pernah jebol oleh perhatianmu, tapi aku salah Tuan, aku menutupi perasaanku dengan berpura-pura berbahagia melihatmu bersama mereka, mengapa saya menyebut mereka, karena bukan sekali aku menemukanmu dengan yang lain, bahkan ceritamu-ceritamu tentang mereka seringkali menjadi bahan obrolan kita yang menyakitkan.

Tapi bagiku, itu tidak pernah menjadi masalah Tuan, meski berkali-kali ia melumpuhkan akal sehatku. Aku selalu mencoba untuk tidak peduli dengan semua kejadian menyenangkan atau bahkan menyedihkan tentangmu, tapi disinilah kelemahan saya, saya tidak pernah bisa betul-betul pergi Tuan, saya tidak bisa berpura-pura bahwa saya tidak butuh kamu untuk menemani langkah saya, dan ternyata sesuatu yang kuanggap salah justru Tuan benarkan, kata Tuan, bersama yang lain justru membuat Tuan semakin menginginkan saya, semakin membuka kenangan Tuan tentang saya, dan tibalah kita pada satu kesalahan fatal, tidak ingin saling melepaskan tapi tidak juga ingin memperjelas hubungan. Semuanya menjadi baik-baik saja, meski kutahu aku bukan perempuan satu-satunya yang Tuan tenangkan, dan saya sangat tahu posisi Tuan, mencoba mengurangi perasaan bersalah Tuan namun justru menjadi api yang membakar diri Tuan sendiri.

Di sepanjang perjalanan kita, bukan sekali perdebatan panjang diantara kita tapi seringkali, bahkan mungkin teman dekat sayapun tidak sudi lagi mendengar cerita-cerita tentang Tuan, saya pun tak mengerti mengapa bibirku selalu ingin memperbincangkan Tuan, dimanapun kakiku berpijak. Jika orang-orang berpikir saya tidak punya usaha untuk menghindari Tuan, maka mereka salah, Tuan pun demikian mencoba segala cara untuk kita tidak bertemu kembali, langkah kaki kita akhirnya semakin panjang, berjalan menjauh sebisa yang kita bisa, tapi lebih banyak gagal. Saya salah selalu memberi kesempatan pada Tuan untuk menenangkan saya, dan Tuan juga salah selalu mencari saya ketika tidak punya tempat kembali, apakah Tuan menyadari, sejauh mana kesalahan yang telah kita buat?

Jika Tuan mengatakan aku adalah orang yang paling tidak peduli dengan Tuan bahkan tidak mengenal Tuan, maka tidak apa, tapi bolehkah aku meminta pada Tuan, kelak diperjalanan Tuan berikutnya, ketika tak ada lagi kabar dari aku, maka Tuan boleh merenung sejenak, perihal perempuan yang selalu berusaha menyenangkan hati Tuan tapi selalu gagal, perihal perempuan yang selalu berisik menanyakan keadaan dan menyuruh Tuan ini itu, perihal perempuan yang paling banyak menyembunyikan tangisnya karena Tuan.

Dan jika hari ini Tuan mengatakan bahwa aku adalah orang yang Tuan tidak kenal, maka tak apa Tuan, sekali lagi biarkan aku melakoni peran antagonis sesuai inginmu. Aku bisa saja membenarkan hal ini, sebab setahun terakhir saya mencoba menjauh dari hidup Tuan, setelah berkali-kali meminta kejelasan tapi tak kunjung terjawab, aku menjadi orang yang tidak Tuan kenal karena laku Tuan yang seringkali diuar kendali. Saya selalu menjadi serba salah ketika Tuan marah, masalah yang sebenarnya sederhana saja tapi selalu Tuan besar-besarkan, sesuatu yang tidak pernah kuanggap masalah selalu Tuan permasalahkan dengan emosi Tuan yang meluap-luap. Kita selalu memandang sesuatu dari sudut yang berbeda, dan disinilah perdebatan kita selalu berawal.

Tuan jika kali ini saya lebih banyak diam, bukan karena aku tidak peduli atau bahkan membenci Tuan, hanya saja saya tidak ingin selalu berdebat dengan Tuan, saya kehabisan akal menghadapi emosi Tuan, bahkan aku membenci kesopanan Tuan yang ternodai oleh mood yang berantakan. Jika Tuan menjadi tidak mengenalku karena perdebatan panjang ini, maka aku juga tidak mengenal Tuan dengan segala emosi yang menyakiti saya.

Tuan, damailah dengan hatimu, dengan semua masa lalu yang memenuhi kepalamu. Kita akan baik-baik saja selama kita tidak saling mempermasalahkan apa yang tidak seharusnya menjadi urusan kita.

Tuan, terimakasih untuk selalu peduli, karena peduli yang terlalu dalam kamu menjadi terluka oleh persepsimu sendiri, maafkan aku yang tidak pernah bermaksud melukaimu, sedikitpun.

Tuan, maafkan saya jika kembali menulis tentang kamu, saya bukan Cinta yang mungkin setelah mendengar penjelasanmu kemudian memutuskan untuk happy ending bersamamu, sebab kamu pun bukan Rangga yang akan menjelaskan dan mengakui setiap kesalahanmu.

Kita punya cerita yang mungkin jauh lebih rumit atau malah jauh lebih sederhana ketika kita melepaskan dan memperbaiki diri kita masing-masing.

Tuan, aku akan baik-baik saja, bersama orang-orang yang kusyukuri keberadaanya, begitupun dengan Tuan akan selalu baik-baik saja dengan orang-orang disekitar Tuan.

Bisakah kita berdamai Tuan? Sebab kita bukan kanak-kanak lagi. Kita punya jalan masing-masing untuk kita nikmati prosesnya dan biarkan endingnya menjadi surprise.

Atau jika Tuan ingin memperbaiki semuanya, maka jalan untuk kebaikan selalu ada Tuan. Inginku sederhana, hanya ingin berdamai dengan hati Tuan yang seringkali membuat saya menjatuhkan airmata, urusan jodoh Allah yang menentukan, tapi silaturahim kita yang jaga.

Maafkan saya, karena saya hanya manusia biasa yang sedang mencoba memperbaiki diri dan menerima ketetapan-Nya. :’)

Mei – HA

13177631_805694792896223_9003303615933372070_n
(satu sore di kabupaten Sinjai)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s