Lelaki itu, Teman hidupku~

Waktu menunjukkan pukul 21:24 (waktu di laptop saya) ketika saya mulai menulis tulisan ini. Diluar sedang hujan romantis (re:gerimis), cuaca yang sangat mendukung untuk kemudian tidur atau menikmati secangkir teh hangat ditemani novel.

Malam ini, seorang perempuan datang menemuiku, menceritakan sedikit dari perjalanan hidupnya yang bisa jadi menarik atau bahkan tidak sama sekali, tergantung siapa yang kemudian membacanya.

Perempuan ini kukenal sebagai perempuan paling keras kepala, susah jatuh cinta, sering PHP, tapi selalu bersemangat dalam berbagi. Dia perempuan yang kukenal sejak lahir, bahkan teramat dekat dengan saya.

Diluar hujan mulai berhenti, diapun mulai bercerita, “aku melihat lelaki itu menembus hujan, ingin mencegahnya tapi aku tidak bisa, aku mengikutinya hingga punggungnya tak lagi bisa kulihat. Dia lelaki yang sedikit keras kepala,punya ambisi yang kuat dan cita cita yang tinggi. Aku menjadi pengikut setia lelaki itu, aku mengetahui posisi tidurnya, wajahnya ketika bangun tidur, wajahnya ketika bahagia, wajahnya ketika bersedih, bahkan aku menghafal setiap aktivitas serta keluhan-keluhannya.”

Dia menatap handphonenya, mengabaikan beberapa notifikasi dan kembali bercerita, “Dia lelaki yang menemani setiap malam-malamku, kami berdiskusi banyak hal, kami mempelajari banyak hal, belajar bahasa inggris bersama, mengaji bersama, kadang dia mengecupku, kadang dia memelukku erat. Tapi seringkali juga kami berdebat, berbeda pendapat, bertengkar karena hal-hal sepele, tapi setelah itu dia kembali mengecup dan memelukku erat. Kami menertawakan banyak hal bersama, tapi aku lebih sering menertawainya jika dia kesakitan atau mengeluh. Kami bahkan pernah menangis bersama, dan dia kembali mengecup dan memelukku erat.”

Saya menghela nafas, kemudian mengajukan pertanyaan,  apakah kamu mencintainya? apakah dia mencintaimu? – pertanyaan bodoh menurut saya.

“jangan tanya soal rasa, tapi pahami kalimat yang sempat aku lontarkan.” itu katanya, sederhana tapi penuh makna~

Dia kembali bercerita, “jika ditanya soal rasa, aku tidak bisa mendeskripsikan seperti apa perasaanku, terlebih kepadanya. Dulu, aku pernah mengaku mencintai seorang lelaki, kuterima saja apa yang dia lakukan terhadapku, tapi ternyata aku salah memaknai cinta. Pernah juga aku mengaku mencintai seorang lelaki, tanpa keinginan untuk saling memiliki, dan kembali aku salah memaknai cinta. Kemudian apa yang terjadi dengan lelaki ini, aku tak pernah sekalipun mengaku mencintainya, didepan siapapun, tapi aku selalu merasa punya tanggung jawab terhadapnya dan yang paling penting aku selalu merasa tenang bersamanya. Dia tidak pernah menuntut sesuatu padaku, pun tak pernah menyuruhku ini itu, ketika aku merasa kelelahan dia akan menjadi lelaki pertama yang menyuruhku tidur, melarangku mengerjakan ini itu. Dia kemudian beralih fungsi, menjadi lelaki paling perhatian jika saya sakit, mengantar kesana kemari tak peduli panas dan hujan, lelaki yang dulunya kukenal hanya dari mulut seorang Bapak yang menyaksikan tumbuh kembangku sejak SMP. Dulu saya tidak tertarik sedikitpun dengan lelaki ini, tapi disetiap harinya, saya menyaksikan usahanya membahagiakanku, kerja kerasnya membahagiakanku, hingga kadang sesuatu yang menurutnya sulit pun harus dilakukan untuk membahagiakanku, maka apalagi balasan terbaikku selain mencintainya?”

Saya terdiam, pada kalimat terakhir yang dia lontarkan. Saya mulai paham bahwa lelaki yang sedari tadi dia ceritakan adalah teman hidupku, lelaki yang telah dan akan selalu bertanggung jawab pada senyum dan tangisku. Lelaki yang telah diamanahi kehidupan dunia – akhiratku.

Kepadamu lelakiku, tidak ada balasan terbaik selain mencintai dan mendoakan kebaikan atasmu. Malam ini, kamu harus menembus hujan untuk suatu pekerjaan, semoga Allah menilai pahala atas setiap langkahmu, memberkahi segala aktivitasmu. Kamu memang sedikit keras, tapi terima kasih untuk keinginan dan usaha untuk selalu menjadi lebih baik. Semoga kita saling mensurgakan, saling menjaga kesetiaan hingga sakinah mawaddah warahmah dalam ikatan cinta yang halal.

tertanda, istrimu yang cerewet.

Ana uhibbuka fillah :’)

(Terimakasih telah mewujudkan satu mimpi : berkunjung ke Yogyakarta) 

Advertisements