Lelaki itu, Teman hidupku~

Waktu menunjukkan pukul 21:24 (waktu di laptop saya) ketika saya mulai menulis tulisan ini. Diluar sedang hujan romantis (re:gerimis), cuaca yang sangat mendukung untuk kemudian tidur atau menikmati secangkir teh hangat ditemani novel.

Malam ini, seorang perempuan datang menemuiku, menceritakan sedikit dari perjalanan hidupnya yang bisa jadi menarik atau bahkan tidak sama sekali, tergantung siapa yang kemudian membacanya.

Perempuan ini kukenal sebagai perempuan paling keras kepala, susah jatuh cinta, sering PHP, tapi selalu bersemangat dalam berbagi. Dia perempuan yang kukenal sejak lahir, bahkan teramat dekat dengan saya.

Diluar hujan mulai berhenti, diapun mulai bercerita, “aku melihat lelaki itu menembus hujan, ingin mencegahnya tapi aku tidak bisa, aku mengikutinya hingga punggungnya tak lagi bisa kulihat. Dia lelaki yang sedikit keras kepala,punya ambisi yang kuat dan cita cita yang tinggi. Aku menjadi pengikut setia lelaki itu, aku mengetahui posisi tidurnya, wajahnya ketika bangun tidur, wajahnya ketika bahagia, wajahnya ketika bersedih, bahkan aku menghafal setiap aktivitas serta keluhan-keluhannya.”

Dia menatap handphonenya, mengabaikan beberapa notifikasi dan kembali bercerita, “Dia lelaki yang menemani setiap malam-malamku, kami berdiskusi banyak hal, kami mempelajari banyak hal, belajar bahasa inggris bersama, mengaji bersama, kadang dia mengecupku, kadang dia memelukku erat. Tapi seringkali juga kami berdebat, berbeda pendapat, bertengkar karena hal-hal sepele, tapi setelah itu dia kembali mengecup dan memelukku erat. Kami menertawakan banyak hal bersama, tapi aku lebih sering menertawainya jika dia kesakitan atau mengeluh. Kami bahkan pernah menangis bersama, dan dia kembali mengecup dan memelukku erat.”

Saya menghela nafas, kemudian mengajukan pertanyaan,  apakah kamu mencintainya? apakah dia mencintaimu? – pertanyaan bodoh menurut saya.

“jangan tanya soal rasa, tapi pahami kalimat yang sempat aku lontarkan.” itu katanya, sederhana tapi penuh makna~

Dia kembali bercerita, “jika ditanya soal rasa, aku tidak bisa mendeskripsikan seperti apa perasaanku, terlebih kepadanya. Dulu, aku pernah mengaku mencintai seorang lelaki, kuterima saja apa yang dia lakukan terhadapku, tapi ternyata aku salah memaknai cinta. Pernah juga aku mengaku mencintai seorang lelaki, tanpa keinginan untuk saling memiliki, dan kembali aku salah memaknai cinta. Kemudian apa yang terjadi dengan lelaki ini, aku tak pernah sekalipun mengaku mencintainya, didepan siapapun, tapi aku selalu merasa punya tanggung jawab terhadapnya dan yang paling penting aku selalu merasa tenang bersamanya. Dia tidak pernah menuntut sesuatu padaku, pun tak pernah menyuruhku ini itu, ketika aku merasa kelelahan dia akan menjadi lelaki pertama yang menyuruhku tidur, melarangku mengerjakan ini itu. Dia kemudian beralih fungsi, menjadi lelaki paling perhatian jika saya sakit, mengantar kesana kemari tak peduli panas dan hujan, lelaki yang dulunya kukenal hanya dari mulut seorang Bapak yang menyaksikan tumbuh kembangku sejak SMP. Dulu saya tidak tertarik sedikitpun dengan lelaki ini, tapi disetiap harinya, saya menyaksikan usahanya membahagiakanku, kerja kerasnya membahagiakanku, hingga kadang sesuatu yang menurutnya sulit pun harus dilakukan untuk membahagiakanku, maka apalagi balasan terbaikku selain mencintainya?”

Saya terdiam, pada kalimat terakhir yang dia lontarkan. Saya mulai paham bahwa lelaki yang sedari tadi dia ceritakan adalah teman hidupku, lelaki yang telah dan akan selalu bertanggung jawab pada senyum dan tangisku. Lelaki yang telah diamanahi kehidupan dunia – akhiratku.

Kepadamu lelakiku, tidak ada balasan terbaik selain mencintai dan mendoakan kebaikan atasmu. Malam ini, kamu harus menembus hujan untuk suatu pekerjaan, semoga Allah menilai pahala atas setiap langkahmu, memberkahi segala aktivitasmu. Kamu memang sedikit keras, tapi terima kasih untuk keinginan dan usaha untuk selalu menjadi lebih baik. Semoga kita saling mensurgakan, saling menjaga kesetiaan hingga sakinah mawaddah warahmah dalam ikatan cinta yang halal.

tertanda, istrimu yang cerewet.

Ana uhibbuka fillah :’)

(Terimakasih telah mewujudkan satu mimpi : berkunjung ke Yogyakarta) 

Jodoh, Rahasia-Nya~

 

(Wedding ring was made and designed by him)

 

Jodoh itu rahasiaNya – yang ditunggu tak kunjung datang, yang tak kenal justru datang melamar. Ah, kalimat ini—
Setiap orang pernah punya mimpi dengan siapa mereka ingin bersanding, dengan siapa mereka ingin melewati suka dukanya, begitu juga saya.

Setiap orang pernah kekeuh mempertahankan satu nama yang diyakini jodohnya, menunggu tanpa kepastian, dan menyebut namanya dalam doa-doanya, begitu juga saya.

Setiap orang ingin menghabiskan waktunya dengan orang yang mereka sayangi, dengan orang yang menyayangi mereka, begitu juga saya.

Tapi hidup tak selalu sesuai harapan,

Bisa jadi kita akan bersanding dan melewati suka duka dengan orang yang baru dikenal.

Bisa jadi orang yang selama ini kita sebut dalam doa, bukan jodoh kita.

Bisa jadi kita akan menghabiskan waktu dengan orang yang baru akan kita sayangi.

Ah, hidup perihal memilih dan menjalani ketetapan-Nya.

Saya termasuk perempuan keras kepala dalam hal memilih pasangan, pernah memilih bertahan pada lelaki yang mengecewakan berkali-kali, pernah memilih bertahan pada lelaki tanpa kepastian, hingga kemudian memilih melepaskan tanpa mengharap siapa-siapa.

Melepaskan justru membuka pintu kesempatan bagi yang lain.

Siapa sangka, saya akhirnya menerima lamaran seorang lelaki yang belum kukenali wajah dan sifatnya. Lelaki yang berani menyuruh keluarganya datang  ke rumah saya sebelum mengenal saya lebih jauh. Entah siapa yang nekat, dia yang melamar atau saya yang menerima lamarannya.

Seseorang pernah berkata “selalu ada campur tangan Tuhan dalam urusan jodoh.” Dan disinilah Tuhan menunjukkan jalanNya, dimudahkan segala urusan berkenalan dengannya, hingga akhirnya kami bersepakat untuk hidup bersama di masa depan. Saya tidak tahu pasti alasan dia memilih saya, yang saya tahu saya tidak punya alasan yang kuat untuk menolak dia. Beberapa kali mencoba bertanya dan jawabannya selalu sama “saya telah menyebut kriteria dalam doa saya dan diantara banyaknya perempuan, Allah menjawab doa saya dengan memilih kamu menjadi calon ibu dari anak-anak saya.” (percayalah saya tidak pernah luluh dengan kalimat ini) hahaha…

Waktu berlalu, saya bisa menghitung jari intensitas pertemuan dengan dia, tidak begitu banyak hal yang saya tahu tapi sepanjang perkenalan kami sejak pertengahan Juli kemarin, saya bisa menyimpulkan bahwa dia lelaki baik yang Allah kirimkan untuk membimbing dan melengkapi hidup saya, karenanya saya banyak memandang sesuatu dari sudut yang berbeda, dia menjelma menjadi teman debat dalam setiap issue, tapi tak pernah memaksakan pendapat dan tak pernah emosi menghadapi saya yang moody-an.  Terimakasih telah menjadi teman diskusi setiap malam melalui telepon, meski sering kali saya tinggal tidur. Hehee

Hari ini saat saya menulis catatan ini di salah satu ruang yang telah dihias (baca: kamar pengantin), saya sendiri masih tidak percaya bahwa 4 hari kedepan kamu akan mengucap janji suci di depan Bapak saya, keluarga saya juga keluarga kamu. Kontrak hidup yang akan kita jalani bersama. Maka semoga Allah memudahkan dan melancarkan segala urusan, memberkahi dan meridhoi pernikahan kita, dan membersamai kita dalam setiap langkah.

Terimakasih telah bersabar menghadapi saya.

Terimakasih telah bersedia menjadi lelaki bertanggung jawab untuk semua suka duka saya di masa depan.

Terimakasih telah memilih saya.

Terimakasih telah menerima masa lalu saya.

Terimakasih untuk usahamu menyenangkan hati saya juga meluluhkan perempuan yang keras kepala ini.

Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada kamu, namun saya akan belajar mencintai kamu, memahami kamu dan menerima segala kekurangan kamu.

Semoga kita saling mensurgakan, bersama menikmati roller coster kehidupan, selamanya 🙂

——

Terima kasih kepada Tuhan yang begitu apik mengatur kehidupan saya,

kepada orang tua dan keluarga saya atas cinta dan doa yang tak berkesudahan,

Kepada setiap orang yang pernah menjadi bagian masa lalu saya, terimakasih telah membentuk pribadi saya hari ini, ingatlah bahwa kalian tetap menjadi yang terbaik di masanya, bisa jadi Tuhan akan memberi jauh yang lebih baik sesuai yang kamu butuhkan.

Untuk semua yang telah menjadi bagian hidup saya, semoga Allah selalu menyayangi kita.

Dan untuk diri, semoga kamu selalu lapang menerima ketetapan-Nya, menyertakan Allah dalam setiap keputusan, dan menjadi sebaik-baik istri untuk suami, anak untuk orang tua, ibu untuk anak-anak, dan sebaik-baik manusia untuk sesamanya. :’)

Allah, Aku berserah atas takdirMu :’)

Kemana Saja, Asal Tidak Menujumu~

Kini aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.
Kemarin, kutitip harapan kepadamu, kiranya yang tumbuh dihati engkau jaga selayaknya aku yang menjaga kamu pada kepasrahan sujud-sujudku.
Tapi, harapan itu perlahan menjadi pertentangan di sunyinya malam-malamku.
Mulai menghancurkan akal sehatku.
Mulai mendekatkanku pada hal-hal yang tak ingin kulakukan.
Aku berpasrah tapi tak mampu bersabar.
Pun tak mampu berterus terang atas setiap rasa yang kutitipkan kepadamu.
Duhai jiwa~

Kini aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.
Kamu seberkas cahaya bagi penghidupanku yang diterpa sunyi
Perlahan kamu menerima segala kekurangan yang ada pada diriku
Tapi aku?
Aku bahkan tak mampu menerima kekuranganmu,
Bagiku setia dan menyatu adalah komitmen yang tak bosan diulang-ulang dalam doa.
Namun pikirku mulai ragu, adakah aku dalam doamu?
Pernah kah kamu memperbincangkanku denganNya?
Layaknya aku yang tak bosan mempertanyakanmu dalam sujud-sujudku.
Duhai jiwa~

Kini aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.
Dalam prosesku mengenali diri,
Kutemukan kamu tak kunjung mengenal diri.
Aku bisa apa, pada cemburu yang tak bertuan,
Pada ego yang selalu ingin menemuimu.
Dalam proses mengenali diri,
Kutemukan keragu-raguan untuk tetap melangkah maju.
Tidak, kamu tidak bisa berterus terang,
Duhai jiwa~

Maka apalagi yang kamu inginkan?
Setelah berkali-kali harapan bersamanya engkau rapal dalam doa-doamu,
Meski merangkak, kamu tetap keras kepala, menunggu dalam kepedihan.

Maka apalagi yang kamu inginkan?
Setelah pertentangan logika dan hati melahap habis malam-malammu.
Mencari separuh jiwamu yang tidak lagi kamu temukan.
Menyiksa dirimu dengan kesia-siaan.

Duhai jiwa, berharaplah hanya kepadaNya. Kepada Dia yang dengan begitu apik megatur segala urusan hidupmu, yang tidak pernah mengecewakanmu pada setiap kejadian-kejadian yang menjadi puzzle hidupmu.

Duhai jiwa, aku memutuskan untuk melangkah (lagi)
Kemana saja, asal tidak menujumu.

24 Ramadhan – Allah tetapkan hatiku di jalan Mu :’)
Rangkul aku yang tak tentu arah :’)

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya (QS – Yasin : 40)

Alhamdulillah untuk segala ketetapan-Mu, aku mencintaimu :’)

image
(suatu malam di Mall Ratu Indah, Makassar)

I am Lose~

Pada malam,,
Ia kembali menginginkan hujan turun dengan derasnya, hingga isak tangisnya tidak lagi terdengar oleh siapapun..
Pada malam,,
Ia kembali menutup tirai yang pernah dibuka, kembali membangun dinding, mengerti batas juga ego yang tak harus dituruti..
Pada malam,,
Ia kembali menitipkan rindu lewat doa-doa indah pengantar tidur..

Kepada kamu, semoga selalu baik-baik saja..
Dan
Kepada kamu, semoga Allah selalu menjagamu..

Dan
Kepada diri, apa yang membuatmu menyerah?
Semangatlah, jalan berliku masih panjang.
Gelar menanti untuk segera disandang..

(Malam ke-5 Ramadhan, Allah menantimu, berlarilah menujunya wahai hati yang tidak tenang) :’)
image

Aku Bukan Cinta dan Tuan Bukan Rangga~

Kepada Tuan yang sedang marah..

Bolehkah aku bercerita tentang kita?

Satu bulan ke depan jika ingatmu masih padaku maka genaplah 6 tahun perjalanan mengenalmu lebih jauh. Apa juga untungnya mengingat, toh antara aku dan Tuan tidak pernah ada ikatan jelas setelah Tuan memilih untuk berpindah.

Kisah ini, adalah proses panjang yang paling mempengaruhi hidup saya. jika saja setiap episodenya dituliskan, mungkin rekornya bisa melebihi sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” yang mendekati 2000 episode, sesuatu yang sangat luar biasa.

Tapi Tuan, tulisan kali ini mungkin sama saja dengan catatan-catatan pilu yang dulu sempat kutuliskan. Kamu bisa jadi membencinya karena karaktermu kubuat antagonis di setiap ceritaku. Tapi tidak masalah Tuan, aku kemudian menjadi terbiasa oleh setiap lakumu yang diluar kendalimu dan oleh setiap ucapanmu yang terpengaruh emosimu.

Jika Tuan berkata aku adalah orang yang paling menyakiti Tuan, maka tidak apa, biarlah sesekali aku mencoba peran antagonis yang Tuan tuduhkan kepadaku. Tapi, sebelum Tuan mencaci lebih jauh, bolehkah aku bertanya pada Tuan? Perihal siapa aku dihati dan hidup Tuan?

Tuan telah mengakhiri hubungan ini sejak Tuan menyelesaikan Studi beberapa tahun lalu, alasan Tuan mengakhiri adalah hal yang tidak pernah bisa kuterima, dulu. Butuh beberapa tahun untuk bisa menerima tapi tidak dengan melupakan. Kukira dengan kembali menjadi teman semua akan baik-baik saja, kukira benteng yang kubangun tentangmu tidak akan pernah jebol oleh perhatianmu, tapi aku salah Tuan, aku menutupi perasaanku dengan berpura-pura berbahagia melihatmu bersama mereka, mengapa saya menyebut mereka, karena bukan sekali aku menemukanmu dengan yang lain, bahkan ceritamu-ceritamu tentang mereka seringkali menjadi bahan obrolan kita yang menyakitkan.

Tapi bagiku, itu tidak pernah menjadi masalah Tuan, meski berkali-kali ia melumpuhkan akal sehatku. Aku selalu mencoba untuk tidak peduli dengan semua kejadian menyenangkan atau bahkan menyedihkan tentangmu, tapi disinilah kelemahan saya, saya tidak pernah bisa betul-betul pergi Tuan, saya tidak bisa berpura-pura bahwa saya tidak butuh kamu untuk menemani langkah saya, dan ternyata sesuatu yang kuanggap salah justru Tuan benarkan, kata Tuan, bersama yang lain justru membuat Tuan semakin menginginkan saya, semakin membuka kenangan Tuan tentang saya, dan tibalah kita pada satu kesalahan fatal, tidak ingin saling melepaskan tapi tidak juga ingin memperjelas hubungan. Semuanya menjadi baik-baik saja, meski kutahu aku bukan perempuan satu-satunya yang Tuan tenangkan, dan saya sangat tahu posisi Tuan, mencoba mengurangi perasaan bersalah Tuan namun justru menjadi api yang membakar diri Tuan sendiri.

Di sepanjang perjalanan kita, bukan sekali perdebatan panjang diantara kita tapi seringkali, bahkan mungkin teman dekat sayapun tidak sudi lagi mendengar cerita-cerita tentang Tuan, saya pun tak mengerti mengapa bibirku selalu ingin memperbincangkan Tuan, dimanapun kakiku berpijak. Jika orang-orang berpikir saya tidak punya usaha untuk menghindari Tuan, maka mereka salah, Tuan pun demikian mencoba segala cara untuk kita tidak bertemu kembali, langkah kaki kita akhirnya semakin panjang, berjalan menjauh sebisa yang kita bisa, tapi lebih banyak gagal. Saya salah selalu memberi kesempatan pada Tuan untuk menenangkan saya, dan Tuan juga salah selalu mencari saya ketika tidak punya tempat kembali, apakah Tuan menyadari, sejauh mana kesalahan yang telah kita buat?

Jika Tuan mengatakan aku adalah orang yang paling tidak peduli dengan Tuan bahkan tidak mengenal Tuan, maka tidak apa, tapi bolehkah aku meminta pada Tuan, kelak diperjalanan Tuan berikutnya, ketika tak ada lagi kabar dari aku, maka Tuan boleh merenung sejenak, perihal perempuan yang selalu berusaha menyenangkan hati Tuan tapi selalu gagal, perihal perempuan yang selalu berisik menanyakan keadaan dan menyuruh Tuan ini itu, perihal perempuan yang paling banyak menyembunyikan tangisnya karena Tuan.

Dan jika hari ini Tuan mengatakan bahwa aku adalah orang yang Tuan tidak kenal, maka tak apa Tuan, sekali lagi biarkan aku melakoni peran antagonis sesuai inginmu. Aku bisa saja membenarkan hal ini, sebab setahun terakhir saya mencoba menjauh dari hidup Tuan, setelah berkali-kali meminta kejelasan tapi tak kunjung terjawab, aku menjadi orang yang tidak Tuan kenal karena laku Tuan yang seringkali diuar kendali. Saya selalu menjadi serba salah ketika Tuan marah, masalah yang sebenarnya sederhana saja tapi selalu Tuan besar-besarkan, sesuatu yang tidak pernah kuanggap masalah selalu Tuan permasalahkan dengan emosi Tuan yang meluap-luap. Kita selalu memandang sesuatu dari sudut yang berbeda, dan disinilah perdebatan kita selalu berawal.

Tuan jika kali ini saya lebih banyak diam, bukan karena aku tidak peduli atau bahkan membenci Tuan, hanya saja saya tidak ingin selalu berdebat dengan Tuan, saya kehabisan akal menghadapi emosi Tuan, bahkan aku membenci kesopanan Tuan yang ternodai oleh mood yang berantakan. Jika Tuan menjadi tidak mengenalku karena perdebatan panjang ini, maka aku juga tidak mengenal Tuan dengan segala emosi yang menyakiti saya.

Tuan, damailah dengan hatimu, dengan semua masa lalu yang memenuhi kepalamu. Kita akan baik-baik saja selama kita tidak saling mempermasalahkan apa yang tidak seharusnya menjadi urusan kita.

Tuan, terimakasih untuk selalu peduli, karena peduli yang terlalu dalam kamu menjadi terluka oleh persepsimu sendiri, maafkan aku yang tidak pernah bermaksud melukaimu, sedikitpun.

Tuan, maafkan saya jika kembali menulis tentang kamu, saya bukan Cinta yang mungkin setelah mendengar penjelasanmu kemudian memutuskan untuk happy ending bersamamu, sebab kamu pun bukan Rangga yang akan menjelaskan dan mengakui setiap kesalahanmu.

Kita punya cerita yang mungkin jauh lebih rumit atau malah jauh lebih sederhana ketika kita melepaskan dan memperbaiki diri kita masing-masing.

Tuan, aku akan baik-baik saja, bersama orang-orang yang kusyukuri keberadaanya, begitupun dengan Tuan akan selalu baik-baik saja dengan orang-orang disekitar Tuan.

Bisakah kita berdamai Tuan? Sebab kita bukan kanak-kanak lagi. Kita punya jalan masing-masing untuk kita nikmati prosesnya dan biarkan endingnya menjadi surprise.

Atau jika Tuan ingin memperbaiki semuanya, maka jalan untuk kebaikan selalu ada Tuan. Inginku sederhana, hanya ingin berdamai dengan hati Tuan yang seringkali membuat saya menjatuhkan airmata, urusan jodoh Allah yang menentukan, tapi silaturahim kita yang jaga.

Maafkan saya, karena saya hanya manusia biasa yang sedang mencoba memperbaiki diri dan menerima ketetapan-Nya. :’)

Mei – HA

13177631_805694792896223_9003303615933372070_n
(satu sore di kabupaten Sinjai)

Hi Februari~

Dear you..

Hello..

selamat tanggal 15 Februari, selamat memasuki tahun ke 25 berpetualang di bumi ini. 🙂

sehat? baik-baik saja? KI? thesis? haatii? heehe (tersenyumlah sebelum melanjutkan membacanya) 🙂

hei.. lelaki yang paling menguji kesabaran, kita mungkin pernah melewati masa-masa bingung dan kikuk memilih kado dan menyiapkan suprise ulang tahun. masa dimana kemampuan akting sangat dibutuhkan. masa yang mungkin menyedihkan jika dikenang, ouch (maka lupakanlah).

apakah kamu merasa bahwa tidak ada hal yang perlu diselesaikan diantara kita? maaf jika tanyaku mulai mengerutkan alismu. sejauh saya mengenalmu, kamu adalah laki-laki baik tapi cukup keras dengan sesuatu yang bertentangan dengan maumu. sedang hatimu, adalah bagian paling rapuh yang tidak mampu kamu kelola dengan baik. memasuki usia 25, kamu bukan lagi lelaki yang harus terikat pada satu masa yang cukup mengekangmu, dan sebagai yang paling suka menkritisimu, saya hanya ingin kamu belajar bijak dari setiap masalah yang telah terlewati, belajar bersabar dari ingin yang tak sesuai dan belajar mengelola emosi juga perasaan yang sering kali terlampiaskan bukan pada tempatnya. mungkin kamu berpikir, buat apa menulis surat ini jika hanya untuk mengomentarimu (hal yang paling tidak kamu suka sepanjang aku mengenalmu), tapi dibalik itu, saya hanya ingin melihatmu jauh lebih baik lagi, ingin melihatmu kembali menjadi pribadi yang teduh untuk siapa saja.

dengan terpostingnya surat ini, saya yakin akan ada beberapa tanya dari orang-orang sekitar kita, dan menulis surat ini pun bukan hal yang tak terpikirkan sebab saya tahu ada hati yang mesti kamu jaga. saya tidak sedang mempengaruhimu untuk kembali pada dia yang telah kamu usahakan untuk pergi, hanya saja, bisakah kamu berdamai dengan hatimu sendiri? dan bisakah kita berdamai dengan kita yang dulu dan sekarang? mulailah berpikir, bukan untuk hari ini, tapi kedepannya, kemana kakimu akan melangkah selanjutnya dan pada siapa hatimu menuju pulang.

jika suratku masuk tak tepat waktu, maafkan saya. kutahu pasti kamu sedang sibuk dengan tugas akhirmu, jadwal ujianmu minggu ini, dan kegiatan di bulan Maret nanti.

selamat ulang tahun Uli, semoga sehat selalu, dimudahkan dan dilancarkan segala urusan. dewasa, semangat, bahagia selalu, sukses #KIMks4 dan magister soon..

terima kasih telah menjadi yang terbaik pada masanya, kita mungkin punya masa lalu yang tidak usai, tapi bukan berarti kita tidak berhak bahagia di masa depan bersama ataupun dengan yang lain.

terima kasih telah menguji kesabaranku, apapun yang membuat airmataku jatuh adalah alasanku untuk tetap tersenyum di hadapanmu. saya dan segala luka akan sembuh oleh penerimaan, begitupun kamu. semoga kesalahan lalu menuntun kita menjadi pribadi yang bijak.

be happiest lelaki yang selalu kupikirkan bahagianya, meski saya lebih banyak gagal memahami perasaanmu.

Allah selalu sayangki, dimanapun, kapanpun, bersama siapapun.

Happy birthday 🙂

 

tertanda..

your little girl,,

 

 

 

 

 

 

 

Saat Benci Bermula~

Sudah dua hari kubiarkan tubuhku terkurung di ruang 3×3 ini, rasa pusing dan muntah berkali-kali cukup menjadi alarm untuk segera beristirahat dari beberapa kesibukan akhir-akhir ini.

Hari ini, meski belum begitu pulih, saya memaksakan diri untuk ikut salah satu kegiatan kerelawanan, berkeliling naik motor untuk menyampaikan amanah kepada adik-adik yang membutuhkan, hujan turun tanpa jeda, salah satu relawan yang bajunya basah mengatakan “kak hujannya awet” yang kemudian mengingatkan saya akan postingan kemarin “bekas hujan di jendela mobil”.  Saya sudah tahu pasti, pulang dari sini badanku akan menggigil dan kembali merasakan demam semalam. Ah aku, terkenal cukup keras kepala untuk beberapa hal, termasuk kesehatan.

Di rumah, saat di sekililing sudah mulai gelap, menampakkan kuasa-Nya akan pergantian siang dan malam, kutemui diriku terbaring lemas di ruang yang menjadi tempat favorit untuk berlama-lama. Seharusnya, malam ini kuhabiskan waktuku untuk membaca kembali salah satu buku yang akan dipresentasikan besok di ujian final. Seharusnya malam ini semangat belajarku menyala-nyala karena besok adalah final terakhir semester 3. 3 semester yang menguras begitu banyak waktu, pikiran dan emosi akhirnya akan terlewati.

Karena tidak ingin membaca, saya memilih untuk tidur, tidur lebih awal sepertinya akan memulihkan tenaga, tetapi rasanya ini terlalu pagi untuk tidur. Teringat pada satu pesan yang belum kubaca, jadilah saya menatap layar hape berlama-lama. Kutemukan namanya dengan jumlah pesan terbanyak, 209 pesan dalam waktu 3 hari, kubaca dari pesan pertama hingga pesan ke 209, speechless!! Isi pesan yang tak seharusnya, emosi yang tak seharusnya dan kemungkinan-kemungkinan yang tak seharusnya.

Dulu saya selalu mendengar orang-orang berkata cinta begitu mudah menjadi benci, begitupun sebaliknya. Tapi saya mengaku kalimat ini tidak pernah bisa kupercaya, sebab saya sendiri tidak pernah ingin membenci siapapun yang menyakiti saya, bukankah setiap orang adalah sebaik-baik ciptaan Allah yang dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan? Maka tidak sepatutnyalah kita membenci akan peristiwa menyakitkan atau kesedihan yang orang lain lakukan kepada kita. Mama selalu bilang “jadilah orang baik dimanapun, untuk siapapun tanpa terkecuali”. Dan inilah yang membuat saya tidak pernah ingin membenci siapapun. Tapi darimu, saya mulai paham bagaimana benci bermula, sederhana saja, ketika orang yang menurutmu paling kamu sayangi, tidak lagi ingin peduli pada setiap yang terjadi padamu, ketika orang yang paling bisa menenangkanmu, pergi tanpa menoleh kembali. Hal sederhana saja tapi cukup menjadikan benci tumbuh di hati yang tak pernah lapang.

Jika kita ingin menghitung-hitung kesalahan, rasanya tidak wajar atas semua hal yang keluar dari mulutmu, atas setiap caci pada dia yang tak mampu lagi memahamimu emosimu, dia mungkin pernah bertekuk lutut padamu, membiarkan dan menerima setiap lakumu, memahami dan menenangkanmu dari setiap masalahmu. Tapi dia bukan lagi dia, dia kini melepasmu dengan sebaik-baik pemahaman, dia yang kini tidak lagi ingin mengulang rasa sakit itu, dia yang tidak lagi ingin menikmati sesak dimalam-malamnya. Silahkan membenciku, sumpah serapahmu kubalas dengan doa tulus agar hatimu tenang. Silahkan menatapku dengan tatapan yang tajam. Tapi kupesankan kepadamu, tak ada hidup yang tenang jika benci bersemi di hati yang mencinta.

mawar-hitam

Maaf, untuk setiap hal yang menyakitkan.

Biarkan saya menikmati hari-hariku dengan dia yang membuatku jatuhcinta pada percakapan-percakapan tengah malam bersamanya.

Maaf, jika lisanku tak mampu kujaga, jika maafku tak mampu mengobati, jika diamku memicu sakit kepalamu.

Sekali lagi MAAF.

Selamat terluka, kelak kamu akan belajar bijak dari segala hal yang menyakitkan..

Bangkitlah, semangatlah~

-HA-

Kamu tak berhak bertahta diruang hati yang telah kamu jamah~

image

Malam semakin sunyi, kutatap layar laptop yang sedari tadi berisi catatan-catatan tugas yang harus segera diselesaikan. Ideku tak ada, pun semangatku sedang tidak menyala-nyala.
Disampingku, Vie sudah terlelap, mungkin dia lelah selepas pengkaderan jurusannya pekan ini. Jarang sekali kami bercerita minggu ini, mungkin karena kesibukan-kesibukan yang menyita hampir semua waktu kami. Biarkan dia terlelap, sebab esok dia harus kembali memenuhi segala kewajibannya.
Saya menghembuskan nafas, ketika jam menunjukkan 23:13 tapi ideku tak kunjung bertamu juga bertemu..

Hapeku kemudian berdering, pertanda ada pesan masuk..
Tengah malam begini? Hm.. mungkin dari t*lk*ms*l atau sm*rtfr*n, kataku.
Ternyata saya salah, pesan kali ini datang dari seseorang yang dulu melarangku mencarinya. Respon saya biasa saja, meski pikiranku mulai menerawang jejak-jejak pilu yang sudah lama tak ingin kukenang.
Ah.. kamu, dulu namamu selalu kunantikan muncul di layar hapeku.
Dulu, obrolanmu selalu kutunggu dari pagi hingga ujung malam.
Tapi itu dulu, saat kesabaranku kamu uji, keikhlasanku kamu uji.
Tapi sejak hari itu, ketika masing-masing dari kita terluka kemudian memilih untuk saling melupakan, maka pada hari itu juga kamu tak berhak tahu apa yang telah saya lewati, pun tak berhak bertahta di ruang hati yang telah kamu jamah.

Sorry for being your stranger, tapi tak ada yang paling tahu lukaku selain diriku sendiri.
Saya tidak salah jika menangisimu, juga tak salah ketika memaafkanmu, tapi saya salah jika membiarkan hati saya terluka berulang-ulang oleh orang yang sama..
Hidupku baik-baik saja, saat kamu memutuskan untuk tidak lagi datang.
Hatiku pun baik-baik saja, dengan dia yang kubiarkan masuk menyusuri ruang hatiku.
Tapi sekali lagi kamu tak berhak tahu apa yang telah saya lewati.
Bukankah kamu telah bahagia, dengan misteri yang ingin kamu pecahkan, dengan misteri yang menurutmu mampu mengalihkan dunia tentangku, dengan misteri yang mengajakmu melangkah kedepan beriringan..

Satu hal yang ingin kusampaikan, bahwa saya tak pernah membencimu, bahwa kamu tetap menjadi bagian terindah di masa itu, dulu.
Hari ini biarkan kesalahan lalu menuntunku menemukan yang tepat, biarkan dia menjadi serangkaian proses menjadi yang terindah di masa depan, saya tidak akan mengatakan dia lebih baik darimu, karena setiap orang adalah orang baik.
Biarkan Tuhan turut andil dalam skenario hidup kita, sebab Dia telah menciptakan manusia berpasang-pasangan~
Tak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?

Tidurlah, sebab misterimu menantimu di awal pagi.

Kau pikir itu tidak sakit, synk?

sudah lama tak kutatap wajah teduhmu, di balik pintu tempat segala hal bermula.

Ingin ku dekap dirimu seperti lebih dari setahun yg lalu, kemudian kukatakan bahwa aku sejak tadi menunggumu, aku merindukanmu..
Tapi aku tetap terdiam memandangi wajah dan tubuhmu yg semakin kurus.
Lantas, suara khasmu menyadarkanku, menanyakan keadaanku?
Aku membalas seadanya berusaha mengontrol diri yg sungguh sangat ingin mengucap rindu..
Tapi..
Kamu selalu saja memposisikanku sebagai kekasihmu, membuatku salah paham atas semua sikap baik dan kata-kata manismu..
Kamu masih selalu saja begitu memposisikanku sebagai perempuan yg tak ada gantinya setelah kekasih-kekasihmu..
Tapi ketika pagi datang, kulihat kamu beranjak pergi, mengabari yg sejak tadi malam sibuk kau kabari. Dan lagi, kulihat senyummu tak lagi untukku.
Kamu selalu begitu, datang dan pergi sesuka hatimu tanpa kepastian, tanpa rasa bersalah..
Aku memang kekasihmu ketika kita berdua duduk bersama, bercerita hal bodoh yg mungkin orang lain tak sempat pikir, aku juga kekasihmu ketika jemarimu pelan-pelan menghapus air mata rindu yg sudah sejak lama memusnahkan akal sehatku, aku kekasihmu malam itu.
Tapi diluar sana kutemui kau sedang duduk manis dengannya, kuhampiri mejamu dan bertanya layaknya teman, tapi kau diam kemudian menatapnya. Aku, kamu memang bukanlah kita. Kamu telah menjadi kita yg lain dengannya. Sedang aku bukan siapa-siapamu, meski malam kemarin masih kurasa jemarimu menenangkan tidurku.
Kau pikir itu tidak sakit, synk?

Kamu yang Tak Pernah Usai

Sudah lama hujan tak turun, pepohonan disamping rumah juga ikut kekeringan.

Lantas apa kabar kamu si penikmat hujan? Masihkah hari-harimu dihadapkan dengan masa lalu yang tak pernah usai atau kamu telah disibukkan dengan masa depan yang tak pernah pasti?
“Aku tak pernah bahagia sejak kepergianmu” tetiba suara itu menyadarkanku dari balik pintu yang tiba-tiba terbuka.
Saya mengenal baik suara itu, dan saya tahu pasti siapa dia.
“hai, masuk” dengan senyum yang sedikit kupaksakan dan berusaha menyembunyikan rasa kagetku.
Dia kemudian duduk di kursi tempat dia biasa duduk, ia mengenal baik seluruh bagian dalam rumah sebab ia pernah menjadi bagian yang membahagiakan di rumah ini.
Dia masih terdiam, menunduk tak ingin melihatku saat sapaku mulai menyadarkannya “apa kabar?” ia terus menunduk membuat saya kikuk entah harus bagaimana, rasa takutku mulai muncul, mulai berpikir apalagi yang salah dari semua tindakanku.
Saya sedang asyik mengganti channel TV ketika tiba-tiba dia bersuara “Kamu  sakit? Matamu bengkak?”
“hm.. nggak. Akhir-akhir ini susah tidur” kemudian hening~~
Entah kenapa memulai percakapan denganmu adalah bagian tersulit ketika kita bertemu, dan maaf jika harus kukatakan bertemu denganmu adalah hal yang tak pernah kuinginkan.
“aku tak pernah bahagia sejak kepergianmu” kalimatnya kembali berulang.
“dulu kamu pernah bilang, melihat orang lain yang kita sayang berbahagia akan membuat diri sendiri jauh lebih bahagia. Kamu bohong. Bagiku melihatmu bahagia dengan dia adalah sebuah kehancuran” Dia melanjutkan.
“mungkin karena hatimu tidak menerima kepergianku, mungkin Karena hatimu tidak mengikhlaskanku” jawabku
“berhenti bicara soal keikhlasan, sebab aku bukan kamu yang bisa menerima ketetapannya, aku bukan kamu yang bisa melihat orang yang kamu sayang berbahagia, aku bukan kamu yang bisa pura-pura kuat, aku bukan kamu yang selalu bisa membuka pintu maaf untuk siapa saja yang menyakitimu, aku bukan kamu” katamu dengan nada yang penuh emosional
Saya yakin sekali tetangga diluar sana sedang diam-diam mendengarkan keributan di rumah ini.
“aku tahu aku salah, aku tahu aku egois. Aku salah karena telah meninggalkanmu, aku salah karena telah memilih dia, dan aku salah karena tidak bisa melihatmu bersamanya. Jika bisa melupakan, kamu adalah perempuan paling pertama ingin kulupakan sejak aku memutuskan meninggalkanmu. Tapi semakin saya mencoba dengan yang lain, kamu selalu saja menjadi bayangan yang tak bisa kukesampingkan. Aku tak pernah bahagia sejak memutuskan meninggalkanmu.” Kalimatnya berubah dan nada suaranya penuh penyesalan.
Saya masih terdiam, berusaha tidak melibatkan perasaanku didalamnya.
“sudah?” kataku
“Bisa saya bicara?”
Dia terdiam, sambal menatapku dengan tatapan matanya yang siap menerkam jika saya salah bicara.
“jika kamu mencintai setulus hati, lantas cinta kamu dikhianati, apa reaksi kamu? Marah? Jelas. Saya pernah merasakan itu dan jangan pernah tanyakan sakitnya bagaimana. Bukan perkara mudah untuk bisa melewatinya, butuh bertahun-tahun lamanya, butuh hati yang tidak lagi sekedar kuat, butuh kesabaran yang tak terhingga. Kamu tahu kenapa pada akhirnya saya menyibukkan diri? Semua saya lakukan karena ingin melupakanmu. Siapa bilang bayangmu tak pernah ikut serta. Orang tuaku pernah berpesan padaku, jika orang lain menyakitimu maka cara terbaik untuk membalasnya adalah dengan tidak membalasnya. Itu sebabnya aku memilih memaafkanmu. Bukan satu atau dua kali kamu datang, memperlihatkan dan memamerkan pasanganmu didepan mataku. Tapi kamu lengah, lupa bahwa menunggu ada batasnya. Hingga pada akhirnya aku memilih tidak lagi berusaha melupakanmu tapi menerima bahwa apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan dan bukankah yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah. Aku mulai mengikhlaskanmu. Dan mulai memikirkan kebahagiaanku sendiri. Dulu kamu pernah bertanya mengapa aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun, jawabku sederhana karena aku ingin kelak dia yang masuk ke hidupku tidak lagi terganggu oleh adanya kamu dihatiku.”
Kamu diam mendengar penjelasanku, tapi kutahu hatimu sedang tidak tenang~
“jika kamu tidak bahagia sejak tidak bersamaku, mengapa diluar sana kamu asyik bersamanya? Dan jika kamu bertanya apa aku bahagia dengan hidupku, tentu saja ia. Saya selalu bahagia atas hidup yang Tuhan beri, bukankah pernah kusampaikan padamu, semesta selalu baik padaku. Jika kamu tidak bahagia sampai hari ini, mungkin kamu lupa bersyukur atau mungkin karena kamu telah terlalu jauh dari-Nya.” Kataku mencoba menenangkan.
Tiba-tiba saja kamu berdiri dari tempat dudukmu, melemparkan remote TV yang tidak bersalah.
“jika aku tidak bahagia, selamanya kamu tidak akan bahagia”
Terdengar suara pagar rumah yang didorong dengan kerasnya, kamu pergi meninggalkan saya yang sedang menyeka air mataku.
Handphoneku berbunyi, bertanda ada BBM masuk.
Sebuah kiriman foto dari dia yang sedang jadi perbincangan tadi.
Kubalas chatnya seadanya, sebab aku tak ingin dia tahu kalau aku diam-diam sedang merindunya :’)
~~~~~
“hai, bisakah kita bertemu?”